Kolom Sosial Politik

Pembiaran Wakil Rakyat

13views

 

Oleh: Ridhazia

DPR nyaris tak berfungsi. Setidaknya parlemen mengalami krisis perannya sebagai institusi wakil rakyat melakukan “check and balance”.

Dengan kata lain, DPR sekarang dinilai tumpul. Para politisi yang dipilih rakyat itu lebih asyik dengan kenyamanan dirinya ketimbang menegur eksekutif. Tutup mata, tutup telinga terlebih kepada presiden.

Koalisi Raksasa

Diduga pangkal masalahnya, akibat dominasi partai pendukung pemerintah terlalu raksasa yang pada gilirannya mempersempit ruang oposisi yang kritis.

Kesan DPR sekarang sering dianggap sekadar melanggengkan keinginan eksekutif atau oligarki tanpa perdebatan substantif.

Bahkan ada sebagian politisi dan partai malah “ikut serta” dalam pergumulan kekacauan program, semisal dalam MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Jangan salahkan rakyat,

Jangan salahkan rakyat kalau mahasiswa dan elemen sipil lain di Tanah Air mengambil alih kontrol sosial.

Melalui demonstrasi masif, kelompok kekuatan moral ini cukup tangguh menyuarakan koreksi langsung terhadap presiden.

Demonstrasi sebagai menjadi satu-satunya instrumen penting untuk menyuarakan kritik, koreksi, serta pengawasan.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis,  pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response