Kolom Sosial Politik

“Iklan Boleh Masuk, Redaksi Jangan Ikut Masuk”

15views

Oleh: Widodo

BANYAK orang bertanya, “Kalau media mengkritik sebuah perusahaan atau instansi, kok masih mau menawarkan kerja sama iklan? Nggak munafik?”

Jawabannya sederhana: iklan itu urusan bisnis, berita itu urusan redaksi. Keduanya punya pagar yang tidak boleh ditembus.

Media butuh pemasukan untuk membayar wartawan, editor, fotografer, server, sampai listrik kantor. Tapi uang iklan tidak boleh membeli isi berita.

Kalau ada yang pasang iklan, bukan berarti besok beritanya langsung manis semua. Sebaliknya, kalau tidak pasang iklan juga bukan berarti akan diberitakan jelek terus. Yang menentukan berita adalah fakta, bukan transferan.

Kalau ada berita yang salah? Silakan gunakan hak jawab atau hak koreksi. Jangan pakai jurus, “Ini saya pasang iklan ya, beritanya dihapus dong.” Itu ibarat beli tiket bioskop lalu minta mengganti ending film.

Di dunia media ada istilah sederhana: iklan itu disewa, kepercayaan publik itu dijaga. Kalau kepercayaan dijual, media tinggal papan reklame yang bisa membaca berita.

Jadi, silakan beriklan, tapi jangan berharap bisa membeli redaksi. Wartawan bukan kasir, dan redaksi bukan minimarket: “Bayar satu, gratis berita positif satu.” *

  * Widodo, kolumnis, pemerhati keruwetan sosial, praktisi penyiaran, Ketua Persatuan Penyiar Radio Indonesia (Persiari), bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat.

Leave a Response