Kolom Sosial Politik

Komunikasi Politik Ala “Takedown”

20views

 

Oleh: Ridhazia

POLITIK  Indonesia terus bergejolak yang ditandai aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar di Tanah Air.

Tapi publik sudah tidak mengetahui secara persis informasi itu. Tidak ditemukan siaran televisi yang meliput detail peristiwa itu.

Seakan semua tidak pernah terjadi di negeri ini. Sepi-sepi saja. Baik-baik saja. Tenang-tetang saja.

Takedown!

Dalam studi komunikasi politik, keadaan yang mencekam tapi tak diketahui publik secara luas, patut diduga terkait pembatasan konten digital yang populer disebut Takedown.

Takedown ditandai mulai dari pemblokiran seluruh laporan peristiwa hingga penutupan sejumlah akun kritis. Semua dilakukan oleh otoritas negara untuk menyamarkan transparansi berita publik.

Serupa Pembredelan

Takedown sering diserupakan pemberedelan di sejumlah negara otoriter. Penguasa tidak segan membungkam kritik, dan membatasi kebebasan berekspresi.

Praktik penyensoran digital ini mereduksi ruang partisipasi publik yang kritis. Tidak ada ada perdebatan luas di ruang publik. Bahkan sangat mungkin anti demokrasi. Lebih jauh lagi otoritarian.

Kebebasan Pers

Takedown bahkan mengancam kebebasan pers karena porsi kebebasan diatur oleh tangan-tangan kekuasan untuk memilah berita yang boleh atau tidak boleh disiarkan sesuai orientasi kepentingan politik.

Efek Gentar

Fenomena takedown sangat melemahkan kontrol meski tidak selalu tampak secara langsung di ruang publik. Tidak ada kegelisahan yang berlebih. Namun dampaknya sangat nyata.

Salah satu diantaranya publik mengalami apa yang populer dalam teori komunikasi digital disebut sebagai efek gentar (chilling effect).

Yakni kondisi rasa takut bersuara dan menyatakan ekspresi secara jujur. Hidup redup penuh curiga. Takut tekanan sosial, atau intimidasi di ruang digital.

Apalagi serangan dari pendengung (buzzer) atau ancaman doxing (penyebaran data pribadi) kerap menyasar pihak berpendapat kritis.

Praktik ini mengalihkan substansi perdebatan dari isi kebijakan menjadi serangan personal demi menciptakan ketakutan.*

   * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati,  kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response