
YOGYAKARTA, BandungPos.id — Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia (GCC Indonesia) bersama Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyempurnakan draf Modul Global Citizenship Education for Technical and Vocational Education and Training (GCED for TVET) melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kampus UPY, Sabtu (1/8/2026).
Modul tersebut disiapkan untuk memperkuat pendidikan karakter, kompetensi global, dan kesiapan kerja siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di tengah perubahan dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.
Pembahasan melibatkan akademisi dari bidang pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan vokasi. Mereka menelaah substansi modul, pendekatan pembelajaran, aktivitas peserta didik, sistem asesmen, hingga relevansinya dengan kebutuhan dunia industri.
Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., mengatakan pendidikan vokasi tidak lagi cukup hanya membekali peserta didik dengan keterampilan teknis. Lulusan SMK juga dituntut memiliki karakter, kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran sebagai warga negara dan warga dunia.
“Lulusan SMK tidak hanya harus mampu bekerja, tetapi juga memahami nilai, tanggung jawab, dan dampak dari pekerjaan yang dilakukannya. Mereka perlu tumbuh sebagai tenaga profesional yang berkarakter Pancasila sekaligus warga dunia yang bertanggung jawab,” ujar Dasim.
Pembelajaran Kontekstual
Rektor UPY Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menilai modul tersebut perlu dikemas melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik.
Menurut Paiman, model pembelajaran RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) layak diterapkan karena memberi ruang kepada siswa untuk memahami persoalan, berdiskusi, menjelaskan gagasan, hingga menghasilkan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat maupun dunia kerja.
“Pembelajaran bagi siswa SMK harus menyenangkan, kontekstual, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berkarya. Model seperti RADEC dapat membuat siswa lebih aktif sekaligus menikmati proses belajarnya,” katanya.
Dari Memahami hingga Bertindak
Narasumber dari UPY, Assoc. Prof. Dr. Septian Aji Permana, M.Pd., menilai rancangan modul telah mengarah pada pembelajaran yang tidak berhenti pada aspek pengetahuan. Ia menggambarkan orientasi pembelajaran melalui filosofi Jawa “Ngerti, Ngroso, lan Nglakoni”.
Menurut Septian, ngerti berarti memahami persoalan, ngroso berarti memiliki empati dan kepekaan sosial, sedangkan nglakoni berarti mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata.
“Pembelajaran GCED seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal, tetapi mendorong peserta didik menghayati nilai dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja,” ujarnya.
Dosen UPY Bayu Gilang Purnomo, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa pendekatan RADEC membuat pembelajaran isu-isu kewargaan global lebih menarik bagi siswa vokasi. Menurutnya, modul tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar pada program studi pendidikan vokasi di perguruan tinggi.
Perlu Penguatan Konteks Dunia Kerja
Akademisi dari Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd., menilai salah satu kekuatan modul terletak pada integrasi dimensi kognitif, sosial-emosional, dan perilaku dalam kerangka Global Citizenship Education.
Ia juga mengapresiasi integrasi nilai-nilai Pancasila yang dinilai tidak sekadar menjadi slogan, tetapi hadir secara substantif dalam aktivitas pembelajaran. Namun demikian, Dikdik mengusulkan agar modul diperkuat melalui ilustrasi, infografik, foto autentik, serta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan siswa SMK, seperti praktik di bengkel, laboratorium, maupun dunia industri.
Selain itu, materi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), regulasi ketenagakerjaan, keamanan siber, perlindungan data pribadi, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab dinilai perlu diperkaya.
Masukan serupa disampaikan dosen Universitas Negeri Yogyakarta Dr. Budi Mulyono, M.Pd. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila perlu menjadi kompas moral yang lebih eksplisit dalam setiap tema pembelajaran. Konsep kewargaan digital juga perlu diperluas agar peserta didik memahami etika bermedia digital, keamanan data, serta dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan sosial.
Menjawab Tantangan Pendidikan Vokasi
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta. Ir. Yulia Venti Yoanita, S.T., M.Eng. menekankan pentingnya modul membantu siswa menyelesaikan persoalan teknis melalui pendekatan yang mempertimbangkan aspek keselamatan, keberlanjutan lingkungan, kebutuhan pengguna, dan tanggung jawab sosial.
Sementara itu, Didik Rohmantoro, S.Pd., M.Pd., mengusulkan agar modul memperkenalkan dinamika tenaga kerja perkotaan sehingga lulusan SMK memiliki bekal menghadapi perbedaan budaya kerja, persaingan, dan adaptasi sosial.
Muhammad Priya Permana, M.Pd., menilai alur pembelajaran dalam modul sudah kuat, tetapi masih perlu diperkaya dengan isu transformasi digital, kecerdasan artifisial, pekerjaan masa depan (future jobs), dan green skills yang dikaitkan langsung dengan karakteristik masing-masing bidang keahlian.
Hal senada disampaikan Dr. Sidiq Supriyanto, M.Pd., yang mengusulkan setiap unit pembelajaran dihubungkan dengan proyek nyata sesuai rumpun keahlian, seperti pengelolaan limbah oli pada bidang otomotif, keamanan siber pada informatika, pengurangan food waste pada tata boga, hingga efisiensi energi pada bidang teknik.
Adapun Muhamad Amiruddin, M.Pd., menilai modul perlu lebih banyak membekali siswa mengenai realitas dunia kerja, mulai dari standar industri, keselamatan kerja, hak-hak pekerja, transformasi digital, hingga penyusunan business plan sederhana sebagai bagian dari pengembangan jiwa kewirausahaan.
Menjadi Acuan Pembelajaran
FGD menghadirkan empat narasumber dan sejumlah akademisi dari GCC Indonesia, UPY, Universitas Ahmad Dahlan, serta Universitas Negeri Yogyakarta. Enam mahasiswa magang GCC Indonesia turut mengikuti kegiatan tersebut.
Secara umum, para peserta menilai draf Modul GCED for TVET telah memiliki fondasi konseptual dan pedagogis yang kuat. Penyempurnaan diarahkan pada penguatan konteks vokasi, penggunaan kasus autentik, peningkatan kualitas visual, penyempurnaan instrumen asesmen, serta penyesuaian dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Masukan yang dihimpun dalam FGD akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum modul diterapkan lebih luas. Kehadiran modul ini diharapkan mampu mendukung lahirnya lulusan SMK yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga berkarakter Pancasila, berwawasan global, peduli terhadap lingkungan dan masyarakat, serta mampu mengambil keputusan secara etis dalam kehidupan dan dunia kerja. (ujn).





