
Oleh: Ridhazia
POSTINGAN saya pada ” Apa yang Anda Pikirkan ” di platform FB tenyata telah menembus angka 2,2 ribu dengan 753 pertemanan.
Alhamdulillah, postingan yang bersifat publik dan dibagikan ke luar lingkaran pertemanan itu masih tetap leluasa menyebar tanpa memicu pelanggaran.
Dengan kata lain, tulisan itu masih aman dibaca dari ujaran kebencian, hoaks, atau hal sensitif yang melanggar standar komunitas. Juga terhindar dari risiko pelaporan atau mass report oleh pihak lain sehingga diblokir.
Tulislah Kehidupan!
Saya teringat kata Philip Pullman, “Daemon Voices: On Stories and Storytelling”. Bahwa tulisan tidak terbuat dari bahasa. Tulisan itu terbuat dari kehidupan
Dari situlah tulisan seharusnya tentang kehidupan. Berarti tulisan mesti berakar dari realitas, dari pengalaman nyata, dan memenuhi hasrat kebenaran emosional manusia. Alih-alih sekadar permainan kata yang kosong atau teori yang abstrak.
Sampaikan Gagasan Setara
Kesejatian suatu tulisan intinya adalah bagaimana menyampaikan gagasan secara objektif, empatik dan tetap menghargai sudut pandang setara di antara para pembacanya.
Tidak pada tempatnya di ruang terbatas di media sosial memilih narasi penghakiman dan provokasi. Tapi secukupnya saja dengan sajian fakta dan bukti yang berbicara daripada menggunakan kata-kata.
Kesempatan Merenung
Saya teringat saran praktis dari penulis opini di sebuah harian terkemuka di Tanah Air — tempat saya menjadi bagian dari skuad keredaksian — bahwa menulis seharusnya selalu membuka ruang tafsir bagi pembaca.
“Berikan kesimpulan yang longgar agar pembaca bisa merenungkan sendiri pesan dari penulis,” katanya.
Terimakasih atensinya.dan perkawanan selama ini.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.


