Oleh Ridhazia
Belum juga berakhir jabatannya, Arsjad pada tahun 2026, ia langsung saja ”digulingkan” Anindya. Sejak itulah Kadin (Kamar Dagang dan Industri) sebuah entitas para pengusaha nasional itu punya “kembaran”.
Perebutan posisi ini memanas setelah Arsyad membantah dirinya digulingkan. Anindya juga membantah menggulingkan. Tapi kedua pihak yang berseteru mengklaim dirinya sebagai pimpinan resmi perkongsian bisnis.
Imbas Pilpres
Arsyad pernah cuti dari posisinya di Kadin dan memilih posisi Ketua Pemenangan Tim Ganjar-Mahfud saat Pemilu 2024. Tapi ia kalah dalam kontestasi politik. Sedangkan Anindya, tidak berada di posisi yang sama. Bahkan berseberangan.
Diduga imbas pilpres 2024 inilah menjadi pangkal masalah. Alih-alih pemicu perpecahan Kadin sebagai masalah internal organisasi. Toh, Anindya itu sebagai Ketua Dewan Pengawas Kadin untuk periode 2021-2025 selama Arsyad memimpin Kadin.
Pendek kata, Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar di Hotel St Regis, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 14 September 2024 hanya untuk menegaskan kalau kisruh Kadin mendongkel posisi Arsjad Rasjid sebagai Ketua Umum Kadin periode 2021-2026 sebagai imbas politik.
Kata Nurdin
Apalagi pimpinan Munaslub, Nurdin Halid, mengungkap alasan melengserkannya Arsjad karena melanggar pasal 14 AD/ART. Politisi Golkar itu menilai Kadin tak lagi berfungsi sebagai organisasi independen.
Imbas dan aroma politik pilpres ini pun terasa semakin tajam ketika konfederasi buruh terbesar di Indonesia, yakni Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), dan Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBSI) menolak hasil munaslub Kadin.
Dan, hanya mengakui kepemimpinan Arsjad Rasjid sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia. Padahal Anindya juga ada di dalam wadah Kadin yang sama yang memiliki posisi dan relasi setara atas organisasi para buruh.
Jadi siapa di balik kisruh ini… *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





