
Oleh : Wati Susilawati
BERDASARKAN data terbaru survei World Top 20 Education Poll yang dilansir pada Januari 2026 peringkat pendidikan Indonesia di dunia masih 67 dari 203 negara.
Masalah kesejahteraan guru di Indonesia memiliki korelasi kuat terhadap penurunan kualitas pengajaran dan pendidikan secara keseluruhan.
Dampak Domino
Masalah ini guru ini menciptakan dampak domino yang mempengaruhi motivasi, fokus, dan kompetensi guru di kelas.
Penelitian membuktikan fenomena kegagalan guru menjadi profesional seringkali berakar dari isu fundamental: rendahnya kesejahteraan.
Ketika seorang pendidik harus bergulat dengan kebutuhan ekonomi harian, fokus sebagai pendidik terpecah, yang berdampak langsung pada kualitas pengajaran di kelas.
Terutama pada keterampilan menguasai metode pembelajaran atau kekurangan kompetensi pedagogik, yang pada gilirannya berpengaruh menciptakan ekosistem kelas yang baik.
Ketimpangan Pendapatan
Indonesia itu masih bergantung pada guru honorer akibat kekurangan guru yang digaji negara yang mencakup sekitar 56% atau 2,6 juta dari total 3,7 juta guru pada akhir 2025.
Kesenjangan honorer guru juga sangat jauh di bawah UMP. Bahkan ada yang di bawah Rp300-400 ribu per bulan yang jauh di bawah pendapatan profesi lain.
MBG
Problem kesejahteraan guru dan profesionalisme sebagai keharusan untuk menopang pendidikan yang baik.
Namun nyatanya, solusi yang ditawarkan pemerintah era Presiden Prabowo melenceng jauh dari harapan.
Alih-alih menambal kekurangan sekitar 374.000 guru ASN berdasarkan analisis beban kerja Desember 2024. Malah sekitaran 67% dari APBN 2026 anggaran pendidik diprioritaskan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).*
* Dr Hj Wati Susilawati, MPd, dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan (FTK) dan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.





