Oleh Ridhazia
Akun Fufufafa menjadi horor politik. Bukan tanpa alasan kalau publik memberi perhatian khusus. Bahkan memunculkan tagar “#Fufufafa”. Dan tagar ini trending sampai sekarang.
Akun Fufufafa sendiri sudah tidak aktif lagi. Tapi jejak digital akun tersebut tidak terhapuskan. Pesannya yang provokatif memaksa publik mencari tahu siapa dibalik unggahan pada platform Kaskus itu.
Bahkan akun tersebut sengaja didramatisasi sebagai konspirasi politik di negeri ini.
Logika mediatisasi
Dalam perspektif mediatisasi media, dramatisasi jejak digital itu tak berlebihan. Malah sesuai dengan logika media bahwa media dapat menciptakan kepanikan dengan memutarbalikkan jejak digital tersebut.
Sebagaimana tesis mediatisasi yang menyatakan bahwa teknologi media tidak hanya berfokus pada efek media. Tetapi bagaimana menarik hubungan antara perubahan komunikasi media. Dalam hal ini dinamika politik media.
Apalagi pengguna media sosial di negeri masih sangat buruk dalam mengevaluasi kebenaran pesan. Pesan palsu lebih sering dibagikan daripada pesan yang benar karena pesan palsu diasumsikam lebih mengejutkan dan menarik perhatian.
Memetika
Kasus akun Fufufafa mengingatkan kembali ikhwal memetika ( meme dibaca “mim”) dalam studi komunikasi politik.
Memetika sebagai pendekatan untuk model evolusi dalam teori konspirasi media yang mengasumsikan bahwa media mampu melompatkan satu pikiran ke pikiran lain secara serentak dan masif.
Dengan kata lain bagaimana ketika seorang individu sebagai replikator-ide mereproduksi dirinya, apalagi ia dianggap berpengaruh mereplikasi diri, melalui media.
Memetika dalam sejarahnya dibentuk serupaan analogi teori evolusi Charles Darwin, yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene (1976).
Memetika dalam mediatisasi sebagai model evolusi terhadap transfer informasi. Yakni menggandakan diri, dan tunduk pada evolusi selektif dimana media itu difungsikan.
Media Konspirasi
Memetika dalam sejumlah studi media sangat erat kaitan dengan media konspirasi. Yakni rencana rahasia atau persengkongkolan komplotan yang memanfaatkan media sosial.
Dalam hal ini konspirasi media selalu memberi ruang terbuka terutama untuk sejumlah pandangan yang ekstrim sekaligus exposure yang lebih luas melalui hukum algoritma media. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





