
Oleh: Ridhazia
DIBERITAKAN, AS-Iran menunda perang. Kedua negara itu bertemu di meja perundingan. Jalur diplomasi ini diinisiasi Pakistan. Tapi hasilnya gagal. Tidak ada kesepakatan subtansial.
Tapi Presiden Donal Trump sesumbar mengatakan kepada dunia dengan diksi provokatif yang menyesatkan bahwa : “Iran telah kalah perang!”
Parameter Perang Moderen
Dalam perang moderen untuk menyatakan suatu negara kalah perang itu parameternya kompleks. Kombinasi banyak faktor.
Kehancuran ekonomi bukan alasan suatu negara dinyatakan kalah perang. Kecuali jika terjadi kekosongan kekuasaan (vacuum of power).
Artinya rezim berkuasa tidak sedang kehilangan legitimasi. Tidak tampak perpecahan antar-faksi politik di dalam negeri yang signifikan. Bahkan militer pun masih solid dalam kendali negara.
Iran : “Will to Fight!”
“Will to fight” merupakan frasa yang lazim digunakan dalam berperang. Disposisi politik itu untuk menopang ketangguhan bertarung dan menang.
Frasa ini melekat pada Iran. Sebuah entitas bangsa yang unik. Apalagi secara historis Iran menjadi satu-satu negara yang dibangun dengan fondasi ideologis yang berakar pada nilai-nilai agama dan kepemimpinan ulama.
Ketahanan spiritual yang tidak ditemukan di seantero Bumi ketika kesabaran, harga diri, dan keteguhan hati (resiliensi) berakar kuat dalam darah bangsa Iran untuk tetap bertahan dalam situasi sulit apa pun.
Terbukti, Iran masih tangguh dalam menghadapi tekanan kolektif dan isolasi dunia internasional. Masih berdiri tegar menghadapi blokade dan sanksi ekonomi.
Bahkan percaya diri dan tak tergoyahkan dari ancaman geopolitik dari negara tetangga yang non-syiah. Alih-alih runtuh, negeri para Mullah ini semakin kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Tak kecuali menghadapi ekspansi kekerasan bersenjata AS dan Israel sekarang. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Dati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





