
Oleh: Ridhazia
PERANG menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Khususnya industri pertahanan militer. Meski perang selalu menjadi “distraksi berbahaya” di era moderen.
Selain menciptakan permintaan produk persenjataan, juga kontrak logistik makanan, terutama ransum prajurit yaitu makanan instan, awet, dan bergizi tinggi dalam kemasan/kaleng.
Selain obat-obatan dan produk farmasi.
Bagi negara yang berperang ada adagium kalau “obat-obatan setara sebagai amunisi”.
Dengan kata lain, memperlakukan pasokan obat-obatan dengan tingkat urgensi yang sama seperti amunisi dan senjata.
Keuntungan Cina dan Rusia
Buktinya, perang Amerika-Israel kontra Iran menjadi keuntungan bagi Rusia dan Cina. Kedua negara itu merupakan pemasok senjata utama global.
Rusia menyediakan jet tempur dan sistem pertahanan canggih. Sedangkan China lebih berfokus pada teknologi pengembangan drone dan rudal balistik.
Aliansi Anti Barat
Secara politis, konflik di Tanah Persia memperkuat aliansi anti-Barat. Sekaligus dapat memgurangi dominasi AS di Timur Tengah,
Hal itu sejalan dengan kepentingan Cina untuk mempromosikan tatanan dunia multipolar sebagai strategi utama untuk menggeser dominasi Barat.
Demikian juga Rusia. Salah satunya ada pengalihan perhatian Amerika Serikat serta sekutunya dari perang di Ukraina.
Khususnya pengalihkan rudal pencegat pertahanan udara selama berperang dengan Rusia. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





