Kolom Mahasiswa

Antara Memuja, Mencemaskan dan  Dilema di Era Artificial Intellegent

Antara Memuja, Mencemaskan dan  Dilema di Era Artificial Intellegent

15views

Oleh Raden Aurel Aditya K

Kita senang karena tugas atau pekerjaan selesai dalam hitungan menit bahkan detik, tapi di saat yang sama muncul ketakutan: “Ini saya yang makin pintar, atau justru saya yang pelan-pelan lagi kehilangan fungsi sebagai manusia?” seperti kita sedang memegang teknologi masa depan, tapi dengan tangan yang gemetar karena tidak tahu apa yang bakal terjadi besok.

FENOMENA AI hari ini benar-benar membuat diri kita merasa aneh. Kita pakai AI hampir setiap detik, menit, jam, tapi masih ada ganjalan kecil di hati. Inilah yang namanya Ambivalensi kondisi di mana kita memuja efisiensinya tapi sekaligus cemas setengah mati oleh keberadaannya. Kita senang karena tugas atau pekerjaan selesai dalam hitungan menit bahkan detik, tapi di saat yang sama muncul ketakutan: “Ini saya yang makin pintar, atau justru saya yang pelan-pelan lagi kehilangan fungsi sebagai manusia?” seperti kita sedang memegang teknologi masa depan, tapi dengan tangan yang gemetar karena tidak tahu apa yang bakal terjadi besok.

Secara ilmiah, ini disebut Algorithm Aversion. Manusia itu mahluk yang paling unik, kita butuh hasil yang instan, tapi kita tidak sepenuhnya percaya sama logika mesin. Begitu AI ada sedikit kesalahan, kita langsung kehilangan kepercayaan, padahal jika manusia yang salah kita selalu bisa memaklumi kesalahanya. Ini bukti kalau secara psikologis kita itu sedang berkonflik. Kita sangat ketergantungan sekali terhadap AI, tapi di sisi lain kita sangat khawatir sekaligus cemas kita hanya memperlemah pemikiran agar jadi tumpul secara kognitif.

Masalahnya menjadi semakin dalam karena adanya Ambiguitas antara pemikiran manusia & logika mesin. Garis antara mana yang asli ide orisinal dari fikiran kita dan mana yang hasil algoritma. Ada istilah keren “The Black Box Problem” kita terima hasilnya, kita pakai output-nya, tapi kita tidak  pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam prosesnya. Kita disuguhi jawaban-jawaban instan, tapi kehilangan esensi dari proses pencarian dan perjuangan berpikir itu sendiri. Akhirnya, kita terjebak dalam kondisi Stochastic Parrots kita jago menghasilkan deretan kata yang kelihatannya pintar, tapi sebenarnya kosong makna dari kata yang di hasilkan tersebut.

Akar masalahnya bukan di teknologinya, tapi di jurang kesadaran kita yang makin lebar. Kita punya akses ke pengetahuan seluruh dunia melalui transformasi teknologi, tapi kita malah makin bingung harus melangkah ke mana. Ambiguitas membuat kita malas untuk terus berpikir kritis karena kenytaaanya semua disediakan oleh mesin. Kalau kita terus-terusan melakukan hal tersebut, kita bukan lagi pihak yang memakai teknologi, tapi teknologilah yang sedang memakai kita sebagai data mereka.

Di tengah kabut ambiguitas ini, kita ditantang untuk kembali Membaca Hidup. Jangan sampai kita hanya jadi penumpang pasif yang disetir oleh algoritma tanpa tahu tujuannya. Kita harus tetap punya kedaulatan untuk Menulis Ulang Diri memastikan bahwa setiap keputusan, setiap karya, dan setiap mimpi yang kita punya itu tetap punya nyawa & rasa manusia, bukan sekadar hasil probabilitas mesin yang dingin.

Karena pada akhirnya, era AI ini bukan lagi soal seberapa jago kamu menggunakan alat tersebut. Tapi soal seberapa mampu kamu tetap menjadi tuan atas identitas dan arah hidupmu sendiri di tengah transformasi digital. Jadi pertanyaanya kamu mau tetap memegang kendali penuh, atau pelan-pelan membiarkan dirimu hanya jadi bagian dari angka-angka algoritma yang nggak punya rasa & nyawa? **Penulis : Raden Aurel Aditya K, Mahasiswa S1 Teknik Informatika Telkom University

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response