RBM Bandung Bertranformasi : Warga Berada di Garis Depan Inklusi
RBM Bandung Bertranformasi : Warga Berada di Garis Depan Inklusi

KOTA BANDUNG, Bandungpos–Kemarin pagi hingga siang, kami berdiskusi di Kantor DILANS bersama Tim RBM (Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat) Kota Bandung. Bukan sekadar rapat koordinasi, tetapi ruang untuk merumuskan arah baru dan gagasan untuk memobilisasi sumberdaya masyarakat yang tercecer.
Di sebuah ruang kecil, kami membicarakan perubahan besar untuk Bandung di tengah krisis multi-dimensi yang tak gampang dilalui. Harapannya inklusi tidak hanya berhenti di kebijakan, tetapi benar-benar hidup di tingkat komunitas dan warga.
RBM Bandung, sebagai forum lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan organisasi disabilitas, kini bergerak menuju pendekatan yang lebih partisipatif. Dari yang sebelumnya cenderung top-down, menjadi model yang menempatkan warga sebagai aktor utama, hingga ke tingkat RW.
Dengan struktur Kota Bandung yang mencakup 30 kecamatan, 151 kelurahan, 1.591 RW, dan 9.904 RT, pendekatan berbasis komunitas bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan. Persoalan masih segudang. Penyelesaian sistemik dan organik dibutuhkan.
Komitmen Pemkot sudah terlihat: dukungan dana prakarsa RW dan pendataan melalui LACI (Layanan Catatan Informasi) RW. Fondasi kelembagaan penting yang bisa mengukur apa yang terlihat dan tidak terlihat di tingjat tapak.
Ini membuka peluang besar untuk memperkuat berbagai inisiatif: community engagement, keuangan inklusif, pencegahan korupsi, pemetaan spasial, pengelolaan risiko bencana, UMKM produktif, hingga advokasi kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI). Rehabilitasi diberi pemaknaan baru, mobilisasi potensi warga secara masif.
Semua terhubung dalam satu visi: mewujudkan Bandung sebagai kota yang inklusif dan bebas diskriminasi.
Inklusi bukan hanya tentang siapa yang diakomodasi, tetapi siapa yang dilibatkan. Dan hari ini, jawabannya semakin jelas: warga di garis terdepan. (rm/BNN)





