Bandung Bergerak dan Dilans Indonesia Bedah Budaya Ableisme di Ruang Seni – Budaya


KOTA BANDUNG, Bandungpos.– Presiden DILANS Indonesia, Farhan Helmy, menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Festival Bandung Menggugat bertajuk “Diskusi Publik: Membedah Budaya Ableis dan Susahnya Mencari Ruang Inklusif di Bandung” yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Bandung Creative Hub.
Diskusi publik tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagaimana budaya ableisme masih mengakar dalam kehidupan sosial, seni, budaya, hingga ekonomi yang secara tidak langsung memarginalkan kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas.
Dalam paparannya, Farhan menjelaskan bahwa ableisme bukan sekadar perilaku diskriminatif terhadap penyandang disabilitas, tetapi merupakan cara pandang sosial yang menilai manusia berdasarkan standar produktivitas, kesempurnaan fisik, dan keseragaman.
“Disabilitas tidak menunjukkan orang yang lemah, tetapi sistem yang lemah,” ujar Farhan dalam memantik diskusi.
Farhan juga membagikan pengalaman personal dan perjalanan DILANS Indonesia selama empat tahun terakhir dalam membangun gerakan berbasis komunitas yang melibatkan lebih dari 1.000 relawan, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum melalui berbagai inisiatif partisipatif.
Berbagai program komunitas yang disebutkan antara lain:#Tour4DILANS, pelatihan bahasa isyarat untuk masyarakat umum, program inklusi bagi frontliner perbankan dan pelayanan publik, Karaoke4DILANS, Yoga4DILANS, hingga berbagai ruang silaturahmi dan gathering komunitas secara rutin, termasuk dialog melalui Radio DILANS Voices.
Menurut Farhan, pendekatan komunitas menjadi salah satu cara paling efektif untuk menghadapi budaya ableisme karena membuka ruang perjumpaan, empati, dan pengalaman bersama antar warga.
Di bidang seni dan budaya, DILANS Indonesia juga aktif mendorong aksesibilitas ruang kreatif melalui berbagai kolaborasi dan inisiatif seperti Open Arms, Seni4DILANS, serta berbagai publikasi mengenai aksesibilitas bagi seniman dan galeri seni.
Kegiatan diskusi ini sendiri lahir dari keresahan akan minimnya ruang seni dan ruang publik yang benar-benar inklusif di Bandung. Banyak kegiatan seni, diskusi, hingga ruang budaya yang masih menjadi ruang “eksklusif” bagi penyandang disabilitas akibat minimnya aksesibilitas dan masih kuatnya budaya ableisme.
Selain membahas isu sosial dan budaya, Farhan juga menekankan pentingnya membangun narasi autentik mengenai GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) yang terintegrasi dengan tantangan peradaban saat ini: krisis iklim dan keberlanjutan global.
Menurut Farhan, semangat Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung hanya dapat terus hidup apabila nilai-nilai solidaritas, keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan terhadap kelompok rentan diwujudkan secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk dalam memastikan kelompok disabilitas, lansia, dan masyarakat rentan menjadi bagian dari representasi kepentingan negara-negara berkembang dalam agenda pembangunan global.
Menurutnya, suara dan pengalaman kelompok rentan harus menjadi bagian penting dalam percakapan tentang masa depan kota, pembangunan, dan keberlanjutan.
Di akhir sesi, Farhan berharap Bandung Bergerak dapat turut memperkuat kapasitas citizen journalism di tingkat akar rumput sebagai bagian dari gerakan sosial yang lebih partisipatif dan inklusif.
“Media warga memiliki peran penting untuk menghadirkan perspektif kelompok rentan dan membangun kesadaran publik tentang inklusi. Peran komunitas bukan hanya sekedar menjadi representasi warga, tetapi juga membangun kesadaran warga agar mampu mengekspresikan kepentingannya sendiri,” ungkapnya.
Diskusi publik ini menjadi bagian dari upaya kolektif untuk membangun ruang budaya yang lebih terbuka, inklusif, dan setara bagi semua ragam kemampuan manusia.
Karena inklusi bukan sekadar belas kasihan.
Inklusi adalah fondasi masyarakat yang tangguh dan manusi





