
KOTA BANDUNG, Bandungpos–Setiap kegiatan #Tour4DILANS bukan sekadar wisata bersama. Selama hampir empat tahun terakhir, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, healing, literasi, sekaligus audit aksesibilitas dan akomodasi fasilitas publik di Kota Bandung.
Rata-rata sekitar 100–150 peserta dengan ragam kedisabilitasan ikut dalam setiap kegiatan, datang dari berbagai wilayah Bandung Raya bahkan luar kota. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan ruang wisata dan ruang publik yang inklusif semakin nyata.
Aksesibilitas tentu bukan hanya soal ramp atau akses fisik. Banyak peserta memiliki sensitivitas berbeda terhadap kerumunan, bunyi, aroma, pencahayaan, hingga cara informasi disampaikan. Karena itu, wisata inklusif membutuhkan pendekatan yang lebih empatik dan menyeluruh.
Setelah mengunjungi Museum Konferensi Asia–Afrika kemarin, sebagian peserta melanjutkan perjalanan menggunakan Bus Bandros (Bandung Tour on the Bus). Sejak hadir tahun 2014, Bandros menjadi ikon wisata Kota Bandung yang juga ingin dinikmati warga difabel dan lansia.
Namun perjalanan inklusif membutuhkan lebih dari sekadar kendaraan wisata: akses ramah untuk berbagai ragam disabilitas
pemandu wisata yang memahami etika kedisabilitasan, informasi yang aksesibel hingga dukungan juru bahasa isyarat
Perjalanan kemarin menjadi pengingat bahwa kota inklusif adalah kota yang mampu mengakomodasi semua warganya, termasuk warga DILANS.
Maka tidak berlebihan jika kami mulai mengusulkan hadirnya: #Bandros4DILANS . Karena kota yang baik bukan hanya indah dilihat, tetapi juga setara untuk dialami bersama. **( rm/BNN)





