Disabilitas

Dekolonisasi Dalam Pikiran dan Tindakan

12views

KOTA BANDUNG, Bandungpos— Dekolonisasi bukan lagi soal masa lalu. Ia siapa tentang hari ini yang memiliki kekuasaan untuk menentukan masa depan. Sehari setelah peluncuran podcast “Tipping Point” di Thamrin School, lebih dari dua jam. saya berdialog panjang dengan sahabat saya Untung Widiyantoro, mantan wartawan Tempo yang kini menjadi redaktur podcast ini.

Bersama rekan-rekan lain di Thamrin School, percakapan ini berkembang menjadi refleksi tentang krisis yang kita bahas hari ini. Bukan hanya krisis iklim, tetapi juga krisis cara berpikir, cara bertindak, dan cara kita mengorganisir diri sebagai akademisi-aktivis yang terhubung dengan warga.

Demikian diungkapkan President Dilans Indonesia, farhan helmy, kepada awak media, pagi ini.

Lebih lanjut dikatan farhan, dekolonisasi sering dianggap selesai. Namun dalam praktik yang diinginkan hari ini, kolonialisme justru terus diproduksi dalam bentuk yang lebih halus, lebih sistemik, melembaga dan lebih sulit dikenal. Ia hadir dalam kebijakan, dalam produksi pengetahuan, bahkan dalam cara kita mendefinisikan solusi.

Banyak pendekatan “global” masih berangkat dari asumsi yang tidak selalu relevan dengan konteks Global South. Inklusi pun sering berhenti pada representasi, tanpa menyentuh pergeseran kekuasaan yang telah meminggirkan sejak lama.

“Dalam diskusi kami, semakin jelas bahwa permasalahan ini tidak hanya terjadi pada negara berkembang yang terjerat dalam sistem ekonomi-politik global yang timpang, tetapi juga merembes ke dalam melakukan tindakan, penelitian, dan pembangunan itu sendiri. “

Namun di sisi lain, pengalaman di tingkat tapak menunjukkan bahwa alternatif itu ada. Ketika warga ditempatkan sebagai produsen pengetahuan sekaligus penggerak, seperti yang kami coba melalui pendekatan Inclusive District Platform (IDP) di Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Ruang masih terbuka untuk membangun keinginan yang lebih kontekstual, adil, dan memerdekakan.

Bandung, sebagai Kota Asia–Afrika, mengingatkan bahwa Global South selalu menentukan kondisinya sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memahami krisis, tetapi beranikah kita mengalihkan pusat pengetahuan dan kekuasaan ke mereka yang selama ini berada di pinggiran. ** ( rm/BNN)

Leave a Response