Oleh Ridhazia
Komunikasi politik KDM dipadang efektif. Proses pertukaran informasi Gubernur Jawa Barat ini patut diapresiasi.
Tapi apakah fenomena politisi partai Gerindra Jawa Barat ini merupakan sebuah bentuk keterbukaan politik ?
Perspektif Teoritis
Dalam perspektif ilmu komunikasi KDM sebagai representasi politisi yang memilih komunikasi politik postmodernisme.
Yakni model komunikasi politik yang keseluruhannya dikonstruksi dengan merevisi kembali paradigma modern (Emanuel, 2006: 93).
Speed dan Banalitas
Salah satu komunikasi postmodernisme KDM dicirikan pesan ide, perasaan dan sikap politik cenderung non-tradisional. Ia menggunakan media sosial.
Mantan Bupati Purwakarta itu pun secara sadar telah memilih model interaksi simbolik non-linier, yakni model komunikasi timbal balik (non-linier) ketimbang komunikasi sepihak (linier) yang mengalir deras dari atas ke bawah.
Ia juga sedang mengkonstruksi komunikasi politiknya bersandar pada konteks budaya Jawa Barat yang melatarbelakangi KDM sebagai pituin Sunda.
Salah satu yang menonjol adalah sikapnya yang cenderung egaliter. Hubungan kesetaraan, kolektivisme, dan intuitif. Ketimbang formal.
Ia memutuskan desentralisasi posisinya sebagai politisi dan pejabat publik. Model komunikasi yang menyebar ke semua arah dengan enggunakan gaya bahasa yang langsung dan tidak mencerminkan hirarki sosial.
Hal ini bisa terbaca dan terekam dalam beberapa unggahan dari media sosial yang dikelola KDM. Ia tengah merintis realitas budaya baru berkomunikasi politik yang terbuka, inklusif, dan relasional. Tentu saja pluralistik.
Banalitas Politik
Banalitas — yang berarti sesuatu yang biasa dan remeh-temeh (triviality) — mengasumsikan bahwa komunikasi politik tak perlu bermakna dan mendalam. Secukupnya supervisial dan populer.
Komunikasi politik banalitas KDM pun cenderung menekankan paradigma kecepatan (speed) dalam hal pertukaran dan perubahan.
Pesan dikirim dan diterima dalam satuan waktu yang sesingkat singkatnya. Semakin cepat kecepatan komunikasi, semakin banyak yang dikirim dalam waktu singkat, semakin baik.
Komunikasi tidak lagi berfokus makna yang tetap, stabil, dan mapan. Melainkan secukupnya mengalir (flow) tapi membiak (multiplicity).
Realitas dan makna telah digantikan oleh simbol dan tanda (simulasi) sebagaimana pernah dipikirkan Jean Baudrillard buku Simulacra and Simulation (1981) yaitu hiperealitas yakni duplikasi realitas atau realitas tanpa asal-usul dan referensi.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





