Kolom Sosial Politik

Realitas Pendidikan Matematika di Indonesia

116views

 

Oleh: Wati Susilawati

MATEMATIKA  itu fondasi sains. Sebab tanpa matematika, ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, dan biologi akan kehilangan akurasi dan kemampuan prediktifnya.

Semisal Hukum Newton tentang gravitasi tidak hanya sekadar konsep verbal yang dinarasikan tetapi sebuah rumus matematika kuantitatif yang saintifik

Semisal, jika sains ingin menjelaskan hukum Newton itu yang berfokus menjawab “berapa banyak” dan “seberapa cepat” maka matematika memberikan kerangka kerja untuk mengukur, menghitung, dan memodelkan data nyata.

Matematika Bahasa Universal

Tak berlebihan kalau matematika diakui sebagai Bahasa Universal Sains (The Language of Science) sebagaimana dikemukakan fisikawan Galileo Galilei (1564-1642) bahwa “alam semesta tertulis dalam bahasa matematika”.

Matematika, kata pria Italia yang digelari sebagai “Bapak Metode Ilmiah” ini memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Bahkan dengan matematika para ilmuwan memungkinkan merumuskan teori dengan presisi tinggi dan menghilangkan ambiguitas yang ada dalam bahasa manusia sehari-hari.

Dalam refleksinya, Galileo Galilei berkeyakinan matematika membuka bisa membuka tabir seluruh alam semesta, dari skala terkecil (mikro) hingga terbesar (makro), mulai dari pergerakan atom hingga orbit galaksi

Bagaimana realitas pendidikan matematika di Indonsia?

Saya ingin mendukung hasil sejumlah penelitian yang menyatakan realitas pendidikan matematika yang masih rendah menjadikan perkembangan sains di Indoensia juga stagnan.

Bayangkan saja, data dan indikator kinerja pendidikan matematika selama dua dekade terakhir, tepatnya sejak tahun 2022, skor literasi pembelajar matematika Indonesia masih di tingkat bawah dibanding negara lain.

Standar OECD

Apalagi jika dibandingkan denban rata-rata pemebalajar matematika di negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) yakni organisasi internasional 38 negara maju.

Rata-rata negara OECD yang memiliki standar pembelajaran tinggi, tenyata hanya sekitar 29% siswa Indonesia mencapai level 2 (batas kemampuan matematika dasar). Sementara rata-rata OECD mencapai 76%.

Versi TIMSS

Bahkan berdasarkan studi TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) kemampuan siswa Indonesia masih rendah.

Dibuktikan hanya mampu mengenali fakta dasar tetapi belum mampu menerapkan dalam konsep yang kompleks. Artinya kuat dihafalan tetapi lemah dalam analisis dan penalaran. Apalagi penerapan konsep dalam situasi nyata.

Dengan kata lain pembelajar matematika di Indonesia mengalami kesulitan saat diminta mengaitkan beberapa informasi, menganalisis data, melakukan penalaran, atau menyelesaikan masalah kontekstual.

Semoga tulisan memberi andil bagi kesadaran pembelajaran matematika masih harus dibenahi bersama, terutama oleh kalangan ilmuwan pendidikan matematika di Indonesia.*

* Dr Hj Wati Susilawati, M.Pd,  dosen Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan, dan dosen pada program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Leave a Response