
Oleh: Ridhazia
BINOKASIH Mulang Salaka yang digagas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dimaksudkan napak tilas sejarah kesinambungan kerajaan Sunda di Jawa Barat.
Khususnya menampilkan ” Binokasih Sanghyang Pake” yaitu mahkota pusaka peninggalan Kerajaan Sunda abad ke-14 yang terbuat dari emas murni 18 karat seberat 8 kg.
Benda pusaka yang disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang ini dibuat pada era kekuasaan Raja Kerajaan Sunda Galuh, Kawali, Ciamis Prabu Bunisora Suradipati (1357–1371).
Mahkota “Binokasih Sanghyang Pake” pernah digunakan oleh Raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja. — yang populer sebagai Prabu Siliwangi — yang berkuasa antara 1482-1521 dengan pusat kekuasaan di kota Pakuan, Bogor.
Diserahkan ke Sumedang
Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh oleh Kesultanan Banten pada 1579, mahkota “Binokasih Sanghyang Pake” diserahkan oleh Senapati Pajajaran kepada Raja Sumedang Larang Prabu Geusan Ulun (1579 – 1601).
Senapati Pajajaran yang menyerahkan mahkota “Binokasih Sanghyang Pake” saat itu adalah Sayang Hawu (Mbah Jaya Prakosa), Térong Péot (Batara Pancar Buana), dan Nangganan (Batara Dipati Wiradijaya), dan Kondang Hapa.
Sumedang Larang
Kerajaan Sumedang Larang berawal dari pecahan Kerajaan Sunda-Galuh di Ciamis. Didirikan oleh Prabu Aji Putih pada abad ke-8 di Citembong Karang dengan nama Kerajaan Tembong Agung.
Kerajaan ini baru berkembang di bawah pimpinan Prabu Tajimalela sebagai pendiri awal Kerajaan Sumedang Larang pada abad ke-8.
Kerajaan Islam
Kerajaan Sumedang Larang bertransformasi penuh ke Islam pada masa Pangeran Santri pada 1578.
Sedangkan Prabu Geusan Ulun raja Sumedang Larang sebagai pelanjutnya.
Sekaligus sebagai penerus sah takhta kerajaan Sunda Pajajaran yang berakhir pada tahun 1579 akibat penaklukan Kesultanan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
Dibawah Mataram
Kerajaan Sumedang Larang berada di bawah kekuasaan Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Suriadiwangsa sekitar tahun 1620.
Sejak itu status Kerajaaan Sumedang Larang yang merupakan tahta terakhir kerajaan Sunda berstatus kabupaten di bawah Mataram dengan sebutan Kabupaten Priangan.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





