PendidikanPendidikan

Melihat Geliat Penulis Muda Solok: Merekam Identitas lewat Esai Budaya Lokal

7views
KABUPATEN SOLOK, Bandungpos--DUA hari kemarin saya di Solok, memenuhi undangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Solok. Gedung perpustakaannya berada di kawasan kompleks Islamic Centre, Koto Baru. Gedung baru. DPK Kabupaten Solok menggelar bimbingan teknis penulisan esai berbasis konten budaya lokal. Bimtek tahap I pada Selasa, 5 Mei 2026. Dilanjutkan workshop menulis kreatif dengan topik yang sama di hari kedua, meski dengan peserta berbeda.
Pesertanya pelajar SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Solok. Peserta paling jauh datang dari Alahan Panjang. Alahan Panjang negeri berudara dingin, di kaki Gunung Talang, di tepi Danau Di Atas dan Danau Di Bawah. Sewaktu pelajar, saya beberapa kali ke sana. Kalau ke Kerinci, Jambi, juga melewati Alahan Panjang.
Siswa yang datang dari Alahan Panjang, yang paling jauh itu, saya tanyakan jam berapa berangkat ke lokasi acara. “Pukul 06.00 pagi,” jawab seorang siswa. Mereka berombongan, beberapa orang, didampingi guru. Pukul 06.00, kalau di Alahan Panjang, dinginnya menusuk, jalan sering ditutupi kabut tebal. Dulu saya merasakan suasana itu.
Saya senang melihat anak-anak, khususnya pelajar, yang bersemangat belajar. Setiap kali menjadi pemateri pelatihan bimtek atau menulis kreatif, saya membayangkan diri saya puluhan tahun lampau ketika masih pelajar. Sayangnya, di zaman saya SMP dan SMA, jarang sekali saya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan seperti itu.
Alasannya karena jarak dan keadaan. Perpustakaan dari kampung tempat saya berdomisili di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, pada tahun 1990-an terasa jauh. Perpustakaan daerah berada di Lhokseumawe, ibu kota kabupaten. Untuk sampai ke sana butuh ongkos, sementara kondisi ekonomi orang tua tidak memungkinkan.
Di Simpang Empat, di tepi jalan provinsi, yang juga cukup jauh dari rumah saya, dan sering saya bersepeda dengan berjalan kaki atau naik mobil labi-labi, ada sebuah kedai buku kecil. Di situlah saya membaca koran Serambi Indonesia edisi Minggu, majalah Bobo, majalah Donald Bebek, dan beberapa majalah remaja yang terbit di masa itu. Saya sering dihardik pelayan kedai buku itu karena jarang membeli.
Selain itu, saya lebih banyak mengunjungi perpustakaan sekolah di SMP dan SMA, karena di sana tersedia cukup banyak buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dari situlah, tanpa saya sadari, benih kecintaan pada dunia baca tumbuh perlahan-pelan.
Bermodal dorongan kesukaan membaca, minat menulis pun ikut tumbuh. Belum ada komputer, apalagi laptop. Saya menulis tangan di buku tulis isi 40 halaman. Tulisan itu kemudian saya kirim ke koran. Karena redaksi koran mensyaratkan tulisan yang dikirim harus diketik, saya pinjamlah mesin tik milik teman yang ayahnya bekerja di pabrik pupuk PT PIM. Untunglah teman itu baik hati, dan mesin tiknya sering berhari-hari di rumah saya.
Tak disangka, kesukaan itu kemudian menjelma menjadi jalan hidup. Menulis bukan lagi sekedar hobi bagi saya, tapi telah menjadi pekerjaan. Oleh karena itu, dalam bimtek tersebut, saya menyampaikan pesan kepada para siswa. Saya leburkan diri, seolah-olah saya juga seorang siswa seperti mereka, saya katakan, mari rajin membaca dan rajin menulis. Tentu saja, tidak semua harus menjadi penulis. Namun, kemampuan membaca dan menulis akan memperkuat potensi siapa pun, apa pun bidang yang kelak mereka geluti.
Di awal kegiatan, saya juga menanyakan cita-cita mereka. Setiap siswa saya minta melafalkan minimal dua cita-cita. Menjadi dokter masih menjadi pilihan terbanyak. Namun, saya terkejut sekaligus gembira, masih ada yang ingin menjadi novelis, penyair, dan seniman.
Saya teringat masa kecil. Dulu saya bercita-cita ingin menjadi pilot. Alasannya, di Aceh waktu itu banyak pesawat tempur melintas di udara. Asyik juga mengemudikan pesawat, pikir saya. Namun seiring berjalannya waktu, cita-cita itu berubah. Saya justru kini jadi penulis.
Begitulah hidup. Apa pun cita-cita, jika ditempuh dengan sungguh-sungguh, akan menemukan jalannya. Kalaupun tidak tercapai, setidaknya kita telah menaruh harapan setinggi mungkin. Dan manusia, pada hakikatnya, hidup dari harapan.
Bimtek kemarin fokus pada penulisan esai berbasis budaya lokal, khususnya yang ada di Kabupaten Solok. Budaya lokal adalah identitas, akar yang membentuk jati diri. Di tengah arus globalisasi yang deras, menjaga dan merawat identitas menjadi penting. Salah satu caranya adalah melalui tulisan, selain tentu saja melalui berbagai media kreatif lainnya.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Hasil karya siswa direncanakan akan dibukukan. Ini penting, bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga sebagai jejak bahwa mereka pernah berpikir, menulis, dan mewujudkan kebudayaan di lingkungan mereka sendiri.
Dalam proses itu, saya juga menekankan pentingnya penelitian dalam penulisan. Menulis bukan sekedar menuangkan ide, tapi juga mengolah fakta dan data. Oleh karena itu, saya melatih siswa teknik wawancara agar mereka mampu menggali informasi langsung dari narasumber di lapangan. Saya minta siswa mewawancarai teman di sebelahnya, menggali sebanyak mungkin informasi tentang profil pribadi temannya dengan pendekatan 5W + 1H, yaitu apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Seolah-olah mereka seorang wartawan.
Suasana pun menjadi hidup. Mereka saling bertanya, tertawa, dan sesekali tampak berpikir serius. Setelah sesi wawancara selesai, saya minta mereka membekukan hasilnya di depan kelas.
Di situlah saya melihat sesuatu yang menggembirakan. Mereka cakap bercerita, mempunyai keberanian untuk tampil, dan mampu menyusun informasi secara runtut. Itu adalah modal penting bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis.
Lebih dari itu, saya melihat harapan. Harapan bahwa generasi muda kita tidak sepenuhnya larut dalam budaya instan dan serba cepat. Masih ada yang mau mendengar, mencatat, dan mengingat kembali kenyataan di sekitarnya.
Di aula DPK Kabupaten Solok itu saya seperti melihat masa depan yang sedang disemai. Kata-kata mungkin tampak biasa, tapi darinyalah peradaban dibangun. Dan mungkin, kelak, dari kalangan pelajar-pelajar itu, akan lahir penulis-penulis baru yang tidak hanya pandai merangkai kalimat, tapi juga mampu menjaga akar, merawat ingatan, dan menyalakan mimpi. Ya, kepada merekalah harapan itu kita tumpangkan, di tengah derasnya budaya asing yang kian menggerus ke berbagai lini kehidupan, dan sering tanpa kita sadari.
Dalam bimtek yang difasilitasi DPK Kabupaten Solok itu, masa depan sedang dititipkan pada anak-anak yang masih mau menekur dan berpikir dalam. Mereka tidak hanya sedang belajar menulis, tetapi sedang membangun fondasi peradaban. Dunia pendidikan dan lingkungan sekitar memikul tanggung jawab untuk memastikan nyala api kreativitas tetap terjaga, hingga narasi tentang tanah kelahiran mereka terdengar lantang dan tetap berwibawa.** (MUHAMMAD SUBHAN/rm/BNN)