
Ditulis Oleh: H. Iding Mashudi
(Humas Dai Kamtibmas Polrests Bandung)
Tanggal: Kamis, 7 Mei 2026
BANDUNGPOS ID.
Dalam pandangan epistemologi Islam, sikap mental yang senantiasa menempatkan diri sebagai pihak yang paling benar dan paling unggul secara intelektual merupakan manifestasi dari penyakit hati yang bernama ‘Ujb (kagum dan bangga pada diri sendiri) serta Kibr (kesombongan). Sifat ini tidak hanya menjadi penghalang utama dalam menerima kebenaran, tetapi juga menjadi tembok tebal yang memisahkan manusia dari hidayah Ilahi, sebab hati yang penuh dengan rasa “aku paling tahu” tidak akan memiliki ruang kosong untuk menerima masukan atau kebenaran dari pihak lain.
Secara substansial, Al-Qur’an menegaskan dengan tegas bahwa batas pengetahuan manusia sangatlah terbatas dan relatif dibandingkan dengan ilmu yang Maha Luas. Oleh karena itu, klaim untuk memposisikan diri sebagai pemilik kebenaran mutlak adalah bentuk ketidaktahuan yang nyata. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
وَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci atau mulia. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa hak penilaian yang sebenarnya hanya berada di tangan Allah SWT, sehingga arogansi intelektual yang merasa paling benar hanyalah kesombongan yang tidak berdasar.
Sikap ini juga berkaitan erat dengan fenomena yang dikenal dalam literatur Islam sebagai Ta’assub atau fanatisme buta. Individu yang memiliki karakteristik ini cenderung menutup diri terhadap dialog konstruktif dan kritik membangun, serta menganggap segala pandangan yang berbeda sebagai kesalahan belaka. Padahal, prinsip dasar dalam berijtihad dan berpikir mengajarkan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fikih atau pemikiran adalah bentuk rahmat, di mana kebenaran dapat dilihat dari berbagai perspektif yang saling melengkapi.
Islam secara eksplisit melarang gaya hidup dan pola pikir yang angkuh serta merendahkan orang lain. Hal ini tertuang jelas dalam firman-Nya:
وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak akan sampai sepanjang gunung.”
(QS. Al-Isra: 37)
Ayat ini menegaskan keterbatasan fisik dan akal manusia, sehingga tidak ada alasan rasional maupun spiritual bagi seseorang untuk merasa paling hebat atau paling benar dibandingkan sesama makhluk.
Dari sisi psikologi spiritual, sifat merasa paling pintar dan paling benar ini menjadikan seseorang stagnan dan mandek dalam perkembangan. Ia berhenti belajar karena merasa telah memiliki segalanya, padahal proses menuntut ilmu dalam Islam adalah perjalanan seumur hidup. Orang yang berilmu sejati justru dikenal dengan kerendahan hatinya, karena semakin luas cakrawala pengetahuan yang dimiliki, semakin ia sadar betapa kecilnya pemahamannya dibandingkan luasnya ciptaan Allah.
Oleh karena itu, jalan keluar yang ditawarkan oleh ajaran Islam adalah dengan menumbuhkan sifat Tawadhu atau kerendahan hati serta keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui segalanya. Mengakui keterbatasan diri dan terbuka terhadap pendapat orang lain bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan berpikir dan ketundukan kepada kebenaran absolut yang semata-mata hanya milik Yang Maha Pencipta.***





