Daerah

 Kampung Ikan Damandiri Subang Mulai Panen Perdana

10views

Kampung Ikan Damandiri Subang Mulai Panen Perdana

SUBANG, BandungPos (7/5/2025). Di kaki pegunungan Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, geliat baru mulai tumbuh. Deretan kolam bundar berwarna biru berdiri rapi di kawasan Kampung Ciwideng, menjadi penanda lahirnya pusat budidaya perikanan modern berbasis masyarakat bernama Kampung Ikan Damandiri Subang.

Setelah diresmikan pada 18 November 2025, kawasan budidaya terpadu tersebut kini memasuki tahap penting melalui panen perdana ikan nila hasil budidaya sistem bioflok. Momentum ini menjadi penanda awal bahwa program pemberdayaan ekonomi desa berbasis perikanan modern mulai menunjukkan hasil nyata.

Panen perdana tersebut dihadiri Ketua Yayasan Damandiri Letjen (Purn) Sugiono, Fuad Bawazier, Retnosari Widowati Harjojudanto atau yang lebih dikenal dengan nama Eno Sigit selaku cucu Presiden Soeharto, serta jajaran pengurus Yayasan Damandiri lainnya.

Dalam panen perdana itu, sebanyak 24 kolam bioflok dipanen dengan hasil rata-rata sekitar 350 kilogram ikan nila per kolam. Hasil tersebut dinilai cukup menggembirakan untuk tahap awal pengembangan kawasan.

Kampung Ikan Damandiri merupakan program yang digagas Yayasan Damandiri untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui sektor perikanan. Berdiri di atas lahan sekitar 2,3 hektare, kawasan ini dirancang bukan sekadar tempat budidaya ikan, melainkan pusat pengembangan perikanan terpadu dari hulu hingga hilir.

Menurut pengelola sekaligus penanggung jawab Kampung Ikan Damandiri, Dian Kustiadi, kawasan tersebut memiliki 85 kolam yang terdiri atas kolam bioflok dan aquaponik. Teknologi bioflok dipilih karena lebih efisien, higienis, serta mampu menghasilkan ikan berkualitas baik.

Dalam satu kolam berdiameter lima meter, kapasitas penebaran benih ikan nila dapat mencapai 1.500 hingga 2.000 ekor. Dari kolam-kolam tersebut, panen direncanakan berlangsung rutin setiap bulan.

Sistem bioflok sendiri memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan nutrisi alami yang kembali dimanfaatkan ikan sebagai sumber makanan. Melalui metode ini, kualitas air lebih terjaga, penggunaan pakan lebih hemat, dan pertumbuhan ikan berlangsung lebih cepat.

Hasilnya mulai terlihat pada panen perdana tahun ini. Dalam waktu sekitar empat hingga enam bulan setelah penebaran benih, ikan nila telah mencapai ukuran konsumsi dengan bobot rata-rata 300 hingga 500 gram per ekor. Selain pertumbuhannya lebih cepat, ikan yang dihasilkan juga dikenal tidak berbau tanah seperti yang kerap ditemukan pada budidaya ikan air tawar konvensional.

Budidaya bioflok dinilai lebih ramah lingkungan karena penggunaan air lebih efisien dan tidak membutuhkan lahan luas. Model seperti ini dinilai cocok diterapkan di kawasan pedesaan maupun permukiman dengan keterbatasan area budidaya.

Tidak hanya fokus pada pembesaran ikan, Kampung Ikan Damandiri juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari training center untuk pelatihan masyarakat, tempat produksi pakan, hingga area pengolahan hasil perikanan.

Konsep yang dibangun mengarah pada kawasan ekonomi terpadu. Warga tidak hanya diajak membudidayakan ikan, tetapi juga dilatih mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Sejumlah produk olahan mulai dikembangkan, seperti ikan nila asap, abon nila, fillet, hingga nila bumbu kuning.

Langkah tersebut membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar sekaligus memperluas pasar hasil budidaya. Program ini juga diharapkan mampu mendukung kebutuhan pangan masyarakat, termasuk menopang program Makan Bergizi Gratis melalui penyediaan sumber protein ikan yang sehat dan terjangkau.

Selain aspek ekonomi dan pangan, Kampung Ikan Damandiri juga mulai dilirik sebagai kawasan edu-wisata perikanan. Lanskap alam Desa Tanjungwangi dengan panorama pegunungan dan danau menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga dapat mempelajari budidaya ikan modern dan sistem aquaponik.

Sementara itu, Kepala Desa Tanjungwangi, H. Budi Santoso, SE, menyampaikan apresiasi atas hadirnya Kampung Ikan Damandiri di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut membawa manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi berbasis perikanan dan pemberdayaan warga desa.

“Pemerintah Desa Tanjungwangi mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Damandiri atas perhatian dan dukungannya kepada masyarakat kami. Kehadiran Kampung Ikan ini menjadi harapan baru bagi warga untuk berkembang dan mandiri,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan Kampung Ikan Damandiri tidak hanya menghadirkan sarana budidaya ikan modern, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus menjadi contoh pengembangan ekonomi desa yang produktif dan berkelanjutan.

Kepada para jurnalis Eno Sigit menuturkan, panen perdana ini menjadi langkah awal penting bagi perjalanan Kampung Ikan Damandiri Subang. Menurutnya, kawasan tersebut perlahan tumbuh bukan hanya sebagai pusat budidaya ikan, tetapi juga simbol pemberdayaan desa berbasis teknologi, ketahanan pangan, dan semangat gotong royong masyarakat.

Ke depan, model pengembangan seperti ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain. Bahwa dari desa, melalui inovasi sederhana namun terarah, kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan dapat dibangun secara bersama-sama. (kin sanubary/sir)

Leave a Response