Kolom Sosial Politik

PDIP Pecat JOKOWI

310views

 

 

Oleh Ridhazia
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengumumkan akan memecat 27 kader partainya, termasuk Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dan Bobby Nasution.

Hubungan yang retak antara PDIP dan Jokowi kembali disorot setelah Presiden ke-7 menghadiri sesi acara kampanye pilkada Jakarta Ridwal Kamil-Suswono.

Tapi jauh sebelumnya keretakan usai Jokowi absen saat HUT ke-51 PDIP pada 10 Januari 2024. Saat itu masih ia sebagai presiden melaksanakan lawatan keluar negeri.

Pemecatan kembali diwacanakan pada saat Pilpres 2024. Dipertajam lagi Gibran Rakabumi Raka berpasangan dengan Prabowo. Melawan calon (paslon) di luar usungan PDIP dalam kontestasi.

Dalam Pilkada 2024 Bobby Nasution mempertegas posisi politik. Menantu Jokowi itu tidak lagi “berbendera” PDIP pada pilkada 2024 di Sumatera Utara.

Simpan KTA
Tentang pemecatan dirinya, Presiden Indonesia ke-7 Jokowi hanya berkomentar pada media kalau ia masih menyimpan KTA PDIP.

Ia menolak berkomentar lebih jauh, apakah ia masih menjadi kader Banteng Moncong Putih atau tidak saat ditemui.awak media di kediamannya di Sumber, Solo, Selasa (3/12/2024).

Mantan Presiden itu hanya kembali melontarkan jawaban yang sama saat ditanya mengenai dirinya yang saat ini tidak terafiliasi partai manapun.

“Ya partainya jadi perorangan, ya udah itu,” ujar Jokowi singkat. Lalu tertawa lepas.

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berbicara soal status keanggotaan Jokowi. Hasto menegaskan Jokowi sudah bukan lagi bagian dari PDI Perjuangan.

Plus-Minus

Jika pada waktunya, Jokowi dan Gibran Rakabumi Raka serta menantu Bobby Nasution dipecat bersama kader PDIP yang membalelo, para pengamat hanya bereaksi terdapat plus minus dibalik keputusan itu.

Apalagi Jokowi menjadi kader PDIP yang memimpin pemerintahan dan negara. Posisi politiknya berpengaruh. Posisi yang tidak pernah dimiliki oleh kader PDIP lain sekalipun sekelas Ketua Umum Megawati yang gagal dipilih rakyat menjadi presiden.

PDIP yang selama ini kuat dan suara dukungan rakyat yang masih besar direpresentasikan oleh posisi Jokowi sebagai pengendali politik nasional. Suka atau tidak suka fakta itu ketika Gibran — yang sudah bukan kader PDIP — bisa menambah dukungan bagi Prabowo dalam kontestasi dengan kader PDIP Ganjar Pranowo.

Entah apa yang bakal terjadi pada partai Banteng Moncong Putih jika sudah ditinggalkan Megawati yang sudah mulai menua dan tidak fungsional lagi.

Hal ini terkait karakter partai politik yang dibangun di negeri ini atas tiga alasan utama, yaitu :

Pertama, pemecatan bagi kader partai di negeri sebagai keniscayaan berpolitik. Siapapun harus menerima realitas di keluarkan secara paksa jika dianggap melanggar komitmen politik pada partai.

Kedua, partai di Indonesia belum sepenuhnya matang sebagai organisasi partai politik yang terbuka. Pasalnya, parpol dibuat oleh inisiatif perseorangan dan keluarga. Bahkan sebatas kepentingan pribadi dengan kemasan ideologi tertentu.

Ketiga, oligarki. Partai diurus oleh kelompok tertentu dengan pengaruh yang kuat. Antara lain asal usul keluarga, kekayaan, pendidikan, bisnis hingga relasi dengan kekuatan militer yang berusaha untuk mencapai puncak kekuasaan. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan klomunis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response