Oleh Ridhazia
Dalam frasa psikologi komunikasi manusia tone-deaf itu dideskripsikan sebagai tipe seseorang yang hanya berfokus pada diri sendiri.
Kata tone-deaf — berasal dari kata “tone” yang berarti nada musik dan “deaf” yang berarti tidak bisa mendengar — untuk menggambarkan tentang ketidaksesuaian antara nada musik dengan pelantun lagu.
Tidak Empati
Dalam ranah sosial, tipe manusia tone-deaf diperkenalkan sebagai kajian sosiologi komunikasi untuk mendeskripsikan tipe seseorang yang tidak memiliki empati.
Ia lebih memenuhi kenikmatan dan hasratnya sendiri ketimbang memilih kesesuaian dengan orang lain. Pribadi-pribadi yang digambarkan sebagai tipe egois yang ribet dengan label harga diri. Dan, ia merasa paling istimewa dan paling benar.
Posisinya sosialnya selalu ingin di atas kelas paling tinggi. Seakan tidak percaya pada adagium ” di atas langit masih ada langit”.
Baginya pangkat dan jabatan, bahkan keturunan tidak boleh dihinakan hanya untuk sekedar merasa salah.
Sulit baginya melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Tidak peka sentimen, dan opini yang berseliweran di telinganya. Ia memilih seleranya sendiri.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





