Kolom Sosial Politik

Krisis Negeri Para Mullah

129views

 

Oleh: Ridhazia

KRISIS politik di Iran menjadi santapan empuk media Barat. Frasa “Iran is falling” atau “Iran is burning” menjadi ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan situasi ketidakstabilan sosial-politik di Tanah Persia itu.

Padahal krisis politik dan ekonomi di “Negeri Para Mullah” itu masih dalam kendali pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Ali Khameney.

Revolusi Iran

Revolusi Iran pada 1979 sebagai salah satu peristiwa politik modern. Skalanya paling berpengaruh dalam percaturan politik global.

Selain berhasil menggulingkan pemerintahan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi (1919-1980), revolusi Iran sebagai paling total mengubah negara menjadi Republik Islam teokratis oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini (1902-1989).

Setan Besar dan Setan Kecil

Amerika Serikat semula menjalin aliansi politik dan menjadikan rezim Shah Iran saat itu sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Malah jauh sebelumnya, Amerika terikat perjanjian politik perdagangan sejak abad-18.

Tetapi setelah Revolusi Iran hubungan itu sepenuhnya putus. Bahkan kedua negara itu bermusuhan. Malah negara Paman Sam itu dianggap sebagai ” Setan Besar “.

Demikian pula dengan Israel. Khomeni dengan ideologi anti-Zionisme menyebut Israel sebagai “setan kecil” yang kerap menuai konflik. Lebih jauh lagi Iran ingin menghapus Israel dari peta dan memusnahkannya.

Permusuhan memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel bersekutu membombardir fasilitas nuklir Iran pada 2025 lalu atas alasan program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial Israel.

Dendam 1979

Krisis politik dan ekonomi di negeri Syiah ini semakin memanas setelah “dendam politik” putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi berniat menggulingkan penguasa Republik Islam Iran.

Hal ini ditafsirkan para pengamat politik internasional sebagai pembalasan atas penggulingan monarki ayahnya, Muhammad Reza Shah Pahlavi, selama Revolusi Islam tahun 1979. *

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response