Kolom Sosial Politik

JIKA DIKAU WAKIL RAKYAT Tulisan Mantan Anggota DPR-RI

670views

 

Ku: Ridhazia

Tertarik dengan tulisan dari seorang mantan anggota DPR yang tersebar di platform WhatsApp, saya ingin menulis ulang dalam FB (facebook) tanpa harus menyebutkan identitasnya.

Sang politisi ini mengawali tulisan dengan kalimat pembuka :

“Bayangkan kamu berhasil jadi anggota DPR. Setelah bertahun-tahun berdemo, maki maki pemerintah, dan debat panjang di media sosial akhirnya kamu masuk ke dalam sistem.”

Mengajukan RUU

Sebagai pendatang baru, dengan semangat berencana mengajukan RUU pro rakyat. Antara lain RUU Rampas Aset Koruptor, RUU Reforma Agraria, RUU Perlindungan Buruh atau RUU Batasan Gaji Pejabat.

Tapi ternyata untuk mewujudkan angan-angan itu, sistem menjebaknya. Ia baru mengetahui untuk mengajukan RUU ia wajib mendapat restu fraksi. Dirinya bukan lagi wakil rakyat. Tapi representasi partai.

Juga berurusan dengan pertanyaan, apakah ini prioritas fraksi? Apakah ini selaras dengan program partai? Apakah ini punya “potensi konflik”?

Tidak bisa atasnama sendiri. Kalau mau nekad, tinggal menunggu giliran PAW (Pergantian Antar Waktu) alias dipecat sebagai anggota legislatif.

“Sampai di sini aja, 80% idealismemu udah dipaksa bungkam,” tulisnya. Kalau dianggap tidak prioritas, ide RUU itu “the end” alias berhenti sampai di sini.

Kendala Baleg

Tahap berikutnya jika saja usulan itu lolos dari fraksi, draf harus masuk ke Baleg (Badan Legislasi DPR) untuk dinilai dan disaring kelayakannya.

Dibandingkan dengan RUU lain untuk dipertimbangkan kepentingannya. Seberapa penting untuk rakyat, seberapa genting secara hukum dan seberapa banyak dukungan publik.

Prolegnas

Jika RUU yang digagas itu lolos etape Baled, belum tentu lolos diprioritaskan di Prolegnas.

Dan, ini alamat gagal menjadi wakil rakyat yang diidealkan. Dalam lima tahun “masa dinas” sebagai wakil rakyat, jangan berharap RUU dibahas di DPR. RUU yang diidealkan hanya akan jadi PDF di Google Drive.

Jadi Rakyat lagi

Di ending tulisannya ia mengakui menjadi rakyat biasa lagi keniscayaan siapa saja yang berambisi menjadi politisi.

Ia pun mengungkapkan betapa rumitnya hidup di negara demokrasi Indonesia. Dan, sekarang memahami tawaran sahabat aktivis yang radikalis untuk meninggalkan demokrasi digantikan sistem politik yang lain.

Sekalian memendam kekecewaan, ia membayangkan Plato, Aristoteles dan para filsuf banyak yang tidak suka sama sistem demokrasi.

Leave a Response