OpiniPendidikan

Indonesia Emas atau Indonesia (generasi)  Cemas

31views

Oleh Andi Qadri Maula Jabbar | Best Personality Dupel Sulsel 2026

Fenomena sarjana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan kini semakin sering ditemui. Media sosial dipenuhi cerita tentang lulusan perguruan tinggi yang menganggur berbulan-bulan, mengirim puluhan lamaran tanpa kepastian, hingga akhirnya bekerja di luar bidang pendidikan mereka demi bertahan hidup. Bahkan, tidak sedikit lulusan sarjana yang memilih menjadi pengemudi ojek online karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan jenjang pendidikan mereka. Tentu tidak ada pekerjaan yang rendah. Semua pekerjaan layak dihormati. Namun persoalannya bukan pada profesinya, melainkan pada ironi yang muncul. Bertahun-tahun pendidikan ditempuh dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik, tetapi realita justru membuat banyak anak muda merasa bingung setelah lulus.

INDONESIA  memiliki mimpi besar bernama Indonesia Emas 2045. Sebuah visi yang menggambarkan Indonesia sebagai negara maju, unggul, dan mampu bersaing di tingkat global tepat seratus tahun setelah kemerdekaan. Dalam berbagai pidato dan program pembangunan, generasi muda selalu disebut sebagai kunci utama menuju cita-cita tersebut. Pendidikan diperluas, teknologi berkembang, dan anak muda terus didorong untuk menjadi generasi yang inovatif dan berdaya saing.

Namun di tengah optimisme itu, muncul realita yang mulai menimbulkan pertanyaan: apakah Indonesia benar-benar sedang mempersiapkan generasi emas, atau justru membiarkan lahirnya generasi yang penuh kecemasan terhadap masa depan?

Fenomena sarjana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan kini semakin sering ditemui. Media sosial dipenuhi cerita tentang lulusan perguruan tinggi yang menganggur berbulan-bulan, mengirim puluhan lamaran tanpa kepastian, hingga akhirnya bekerja di luar bidang pendidikan mereka demi bertahan hidup. Bahkan, tidak sedikit lulusan sarjana yang memilih menjadi pengemudi ojek online karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan jenjang pendidikan mereka.

Tentu tidak ada pekerjaan yang rendah. Semua pekerjaan layak dihormati. Namun persoalannya bukan pada profesinya, melainkan pada ironi yang muncul. Bertahun-tahun pendidikan ditempuh dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik, tetapi realita justru membuat banyak anak muda merasa bingung setelah lulus.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia hari ini bukan hanya soal memperbanyak jumlah lulusan, tetapi memastikan bahwa pendidikan benar-benar mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia nyata. Banyak anak muda memiliki nilai akademik yang baik, tetapi belum cukup dibekali keterampilan praktis, pengalaman lapangan, kemampuan beradaptasi, maupun kesiapan menghadapi perubahan industri yang bergerak cepat.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan juga mulai mengubah kebutuhan dunia kerja. Banyak pekerjaan berubah, bahkan perlahan tergantikan otomatisasi. Sayangnya, sistem pendidikan sering kali bergerak lebih lambat dibanding perkembangan zaman. Akibatnya, muncul ketimpangan antara apa yang dipelajari di bangku pendidikan dan apa yang benar-benar dibutuhkan di lapangan kerja.

Namun kritik ini bukan berarti pesimis terhadap masa depan Indonesia. Justru sebaliknya, kritik perlu menjadi bahan refleksi agar visi Indonesia Emas tidak berhenti sebagai slogan semata. Indonesia memiliki potensi besar: jumlah usia produktif yang tinggi, perkembangan teknologi yang cepat, serta generasi muda yang kreatif dan adaptif. Potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila dibarengi dengan sistem pendidikan dan peluang kerja yang mampu berkembang bersama zaman.

Pendidikan ke depan tidak cukup hanya berfokus pada nilai dan ijazah. Sekolah dan perguruan tinggi perlu lebih banyak membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja nyata. Anak muda juga perlu didorong untuk tidak hanya bergantung pada satu jalur pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang melalui inovasi dan pengembangan keterampilan.

Selain itu, pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri perlu membangun hubungan yang lebih selaras agar lulusan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Sebab keberhasilan sebuah negara bukan hanya diukur dari banyaknya sarjana yang lulus, tetapi dari seberapa besar generasi mudanya mampu berkembang dan merasa memiliki masa depan.

Indonesia Emas 2045 seharusnya bukan hanya tentang pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang membangun manusia yang siap menghadapi perubahan zaman dengan kualitas dan mentalitas yang kuat.

Karena pada akhirnya, generasi muda tidak membutuhkan janji bahwa masa depan akan baik-baik saja. Mereka membutuhkan bukti bahwa negara benar-benar sedang mempersiapkan masa depan itu bersama mereka.** Penulis : Andi Qadri Maula Jabbar | Best Personality Dupel Sulsel 2026, tinggal di Kota Makasar

Editor : Rianto Muradi

 

Leave a Response