Pendidikan

Indonesia di Tangan Pelajar, Mau Dibawa ke Mana

9views

Oleh Muh. Raihan Latif (RU 1 Dupel Bone 2025)

Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan besar. Di satu sisi, kita memiliki bonus demografi dengan jutaan anak muda produktif. Namun di sisi lain, tantangan zaman juga semakin berat: krisis moral, rendahnya literasi, penyebaran hoaks, budaya instan, hingga menurunnya kepedulian sosial. Pertanyaannya, jika masa depan bangsa ada di tangan pelajar, Indonesia sebenarnya mau dibawa ke mana?

Pelajar bukan hanya generasi penerus, tetapi juga penentu arah bangsa. Apa yang dilakukan pelajar hari ini akan menentukan wajah Indonesia beberapa tahun ke depan. Jika pelajar hanya sibuk mengejar popularitas tanpa prestasi, lebih senang menjadi penonton daripada pencipta perubahan, maka Indonesia akan berjalan di tempat. Tetapi jika pelajar mulai membangun karakter, meningkatkan literasi, menguasai teknologi, dan peduli terhadap lingkungan sosial, maka Indonesia memiliki harapan besar menjadi bangsa maju.

Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan banyak pelajar mulai kehilangan arah. Media sosial sering kali lebih banyak digunakan untuk mencari validasi dibanding membangun kapasitas diri. Budaya membaca mulai tergeser oleh budaya scroll tanpa batas. Diskusi ilmiah kalah ramai dibanding drama digital. Akibatnya, banyak generasi muda yang cepat berkomentar tetapi minim pemahaman.

Padahal, pelajar memiliki kekuatan besar. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari anak muda dan kaum pelajar. Sumpah Pemuda 1928, perjuangan reformasi 1998, hingga berbagai gerakan sosial lainnya menunjukkan bahwa pelajar mampu menjadi motor perubahan bangsa. Artinya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas pola pikir pelajarnya hari ini.

Indonesia membutuhkan pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan keberanian untuk berdampak. Pelajar harus mulai sadar bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk kualitas diri. Prestasi penting, tetapi integritas jauh lebih penting. Teknologi harus dimanfaatkan untuk belajar dan berkarya, bukan hanya untuk hiburan semata.

Jika pelajar hari ini memilih untuk malas belajar, anti kritik, dan apatis terhadap lingkungan sekitar, maka Indonesia akan kesulitan bersaing di masa depan. Namun jika pelajar berani keluar dari zona nyaman, aktif berkarya, memperkuat literasi, dan menjaga moralitas, maka Indonesia akan melangkah menuju bangsa yang lebih maju, berdaya saing, dan beradab.

Karena pada akhirnya, arah Indonesia bukan hanya ditentukan oleh pemerintah atau pemimpin negara. Arah Indonesia juga sedang ditentukan oleh apa yang dilakukan pelajar hari ini. Jadi, Indonesia di tangan pelajar mau ke mana? Jawabannya ada pada pilihan generasi muda itu sendiri. **penulis Muh. Raihan Latif (RU 1 Dupel Bone 2025

Leave a Response