Oleh Ridhazia
Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober. Sedangkan Hari Sarung pada 3 Maret.
Kedua momen bersejarah ini berselisih waktu tujuh bulan. Tapi senyatanya berkaitan.
Lihatlah, setiap Hari Santri memakai sarung. Bahkan menjadi keharusan mengikuti apel peringatan.
Latar Historis
Secara historis, asal usul sarung bukan asli Indonesia. Tapi diadaptasi dan ditiru dari pakaian para saudagar dari India dan Arab yang singgah dan berdagang ke Nusantara sekitaran abad ke-14.
Jika berasa sebagai kebudayaan asli Nusantara karena kerap dipakai dalam acara-acara khusus keagamaan. Bahkan acara-acara khusus kebudayaan.
Penggunaan sarung juga cocok dengan iklim tropis Indonesia. Juga serba praktis. Selembar kain yang dililitkan di pinggang lebih dari cukup untuk digunakan untuk keperluan apa saja.
Kesederhanaan sarung yang adem, longgar merupakan salah satu makna filosofis utama dari sarung. Apalagi setelah mendapat sentuhan religiusitas.
Belakangan saja terungkap kalau sarung ternyata memiliki nilai historis politik. Selain simbol melawan budaya penjajah yang berpakaian mewah.
Juga menjadi identitas perlawanan kaum santri pesantren selama pra kemerdekaan yang kemudian ditegaskan dalam Hari Santri.
Posisi Sosial
Belakangan, sarung menjadi penanda posisi sosial di negeri ini. Menjadi simbol kehormatan pemakainya. Bahkan menjadi pesan moral yang mengatur perilaku sosial.
Apalagi kalau sarung yang digunakan itu bermerek dan harganya mahal. *
* Ridhazia, dosen senior Fdikom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





