Oleh Budi Setiawan
Kita semua dibuat terkejut oleh kebijakan BPIP yang meminta anggota paskibraka putri melepas jilbab saat pengukuhan di IKN. Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, beralasan bahwa ini untuk mengedepankan keseragaman dalam kebhinekatunggalikaan bangsa ini. Tapi, alasan ini justru mengundang banyak tanda tanya. Keseragaman yang dimaksud seolah mengabaikan apa yang selama ini jadi kekuatan utama bangsa kita: keberagaman.
Kebhinekaan Indonesia itu kan tak cuma soal terlihat sama, tapi justru tentang merangkul perbedaan. Negara ini dibangun di atas fondasi keberagaman, bukan penyeragaman. Memaksa seseorang melepas simbol keagamaannya, seperti jilbab, demi keseragaman, justru bertentangan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. BPIP yang seharusnya menjaga ideologi Pancasila, malah terjebak dalam cara pandang yang naif, bahkan bisa dibilang berbahaya.
Ini bukan pertama kalinya Kepala BPIP Yudian Wahyudi membuat pernyataan yang bikin dahi kita berkerut. Sebelumnya, ia pernah menyebut bahwa “agama adalah musuh terbesar Pancasila” dalam konteks tertentu. Ucapan ini, ditambah kebijakan soal jilbab, bikin kita bertanya-tanya: apakah ada bias tertentu dalam pandangan Kepala BPIP terhadap simbol-simbol keagamaan? Kok, kesannya ada upaya menjauhkan umat Islam dari narasi kebangsaan?
Padahal, umat Islam di Indonesia ini sudah sejak lama jadi pilar penting menjaga persatuan di tengah keberagaman. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang selalu menekankan pentingnya persatuan nasional. Atau Mohammad Natsir, tokoh Islam sekaligus nasionalis sejati, yang selalu menjembatani kepentingan umat Islam dengan kepentingan nasional tanpa mengabaikan keberagaman yang ada.
Tokoh-tokoh ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, tapi justru kekuatan kita. Dengan mengabaikan simbol-simbol keagamaan seperti jilbab, Kepala BPIP seolah melupakan sejarah panjang kebersamaan yang sudah dibangun para pendiri bangsa. Ini jadi pertanyaan besar: apakah Kepala BPIP benar-benar paham sejarah kebangsaan kita? Apakah dia dan teamnya benar-benar punya kapasitas untuk membina ideologi Pancasila di negara yang seberagam ini?
Kebijakan pelepasan jilbab ini bukan sekadar soal teknis, tapi mencerminkan masalah yang lebih dalam soal cara pandang berbangsa. BPIP perlu serius mempertimbangkan arah kebijakan mereka. Jangan sampai kebijakan ini malah merugikan persatuan dan keberagaman yang sudah kita bangun bersama.
Sebagai bangsa yang kaya akan perbedaan, kita tidak boleh terjebak dalam narasi keseragaman yang sempit. Indonesia kuat karena kita berbeda-beda tapi tetap satu. Jadi, mari kita jaga keberagaman ini, dan jangan biarkan mereka yang berpandangan naif, apalagi ada di sebuah lembaga yang mengusung nilai kebangsaan, merusaknya.*
* Budi Setiawan adalah mantan jurnalis senior media ibukota dan alumnus FISIP Unpad Bandung, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.





