KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS–Saat ini relawan DILANS yang sudah mendapatkan pelatihan pengenalan Bahasa Isyarat sudah sekitar 250 orang. Jumlah itu terbagi kedalam lima Batch, masing-masing sekitar 50 orang dan setiap Batch dibagi kedalam kelompok masing-masing 10 orang. Tidak hanya empat kali tatap muka, tetapi juga grup WA, dan postingan rutin untuk refreshing supaya ingat melalui IG @bahasaisyarat_4dilans.
Hari Minggu, 7 Juli lalu sesi terakhir sekaligus penutupan Batch-5. Peserta kali ini beragam latar belakangnya: mahasiswa, ibu rumah tangga, ASN, profesional, aktivis ataupun individu lainnya yang punya minat.
Sedari awal interaksi ini diniatkan bukan hanya sekedar mampu mempraktekkan bahasa isyarat dalam keseharian, akan tetapi lebih jauh lagi merupakan media untuk menyebarluaskan energi positif semangat memberi (giving) dan empati (empathy). Keterbatasan komunikasi dengan warga tuli, bukan berarti tidak ada interaksi untuk berbagi pengetahuan. “No One Left Behind” intinya.
Pada setiap penutupan kamipun biasanya berangklung bersama. Angklung sebagai warisan budaya tanah air dikembangkan dalam kemasan sebagi media komunikasi yang sudah dipraktekkan sejak lama. Joko Angklung mengemasnya sebagai media dalam membangun motivasi dan kebersamaan, terutama dalam mempromosikan kehidupan inklusif yang tidak meminggirkan warga difabel dan lansia (DILANS).
Tidak hanya itu eksperimennya, dikombinasikan dengan membawakan lagu keroncong. Kali ini menampilkan lagu, “Di Tepinya Kali Serayu”. Lumayan, semua peserta memainkannya dengan baik dan penuh keceriaan. (Rm/BNN)





