Museum KAA Dorong Ruang Inklusif untuk Difabel dan Lansia
Museum KAA Dorong Ruang Inklusif Untuk Difabel Dan Lansia


BANDUNG, Bandungpos–Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) kemarin menyelenggarakan dialog bertajuk Inclusive Museum Spaces sebagai bagian dari rangkaian Sepekan KAA. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong pelayanan publik yang lebih inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas dan lansia. Tiga narasumber hadir dalam dialog ini.
Hal itu dosampaikan President Dilans Indonesia, Farhan Helmi kepada awak media, hari ini.
Dalam dialog tersebut menurut Farhan, Dante Rigmalia, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia (KND RI), menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar pilihan, melainkan mandat yang harus diwujudkan dalam kebijakan dan pelayanan publik. Ia menekankan pentingnya negara memastikan setiap warga mendapatkan layanan yang setara dan bermartabat.
Sementara itu, Ade Rivky Hanif, School Relation Officer Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara), berbagi praktik baik dalam menghadirkan pengalaman museum yang inklusif melalui pendekatan kuratorial dan edukasi yang lebih adaptif, sehingga mampu menjangkau beragam latar belakang pengunjung.
Farhan Helmy, Presiden DILANS Indonesia, menekankan bahwa museum tidak lagi cukup menjadi ruang penyimpan sejarah, tetapi perlu bertransformasi menjadi pusat pengetahuan yang hidup dan inklusif. Ia menegaskan bahwa museum harus mampu menjawab tantangan masa kini, termasuk ketimpangan sosial, krisis iklim, serta kebutuhan kelompok rentan di tengah krisis multidimensi.
“Diskusi ini juga menyoroti bahwa inklusi tidak hanya soal fasilitas fisik, tetapi mencakup sistem yang lebih luas: mulai dari desain ruang, penyampaian informasi, hingga partisipasi masyarakat, katanya.
Berbagai inisiatif seperti Inclusive District Platform (IDP), Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) Kota Bandung, Radio internet DILANS Voices, dan When the Land Speaks menunjukkan bahwa ekosistem inklusi telah mulai berkembang dan menjangkau berbagai isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI).
Melalui forum ini, Museum KAA diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai ruang belajar dan dialog lintas pemangku kepentingan, serta menjadi penghubung bagi upaya inklusi yang lebih luas di tingkat kota, nasional, hingga Asia–Afrika **(rm/BNN)





