DisabilitasMetro Bandung

Dari Taman Kota hingga Solidaritas Asia-Afrika

Dari DRR Asia-Afrika, kita memahami urgensi ketahanan berbasis komunitas.

10views

KOTA BANDUNG, Bandungpos--Dalam dunia yang semakin kompleks yang diwarnai krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga melemahnya tata kelola global, suara komunitas menjadi semakin penting.

Siaran Radio DILANS Voices – Inclusion on Air, Jum’at, 10 Maret 2026 hadir sebagai ruang dialog yang tidak hanya merefleksikan realitas di tingkat lokal, tetapi juga menghubungkannya dengan dinamika regional dan global.

Dari taman kota di Bandung hingga gagasan solidaritas 3.500 kota Asia-Afrika, benang merahnya jelas: inklusi bukan pilihan, melainkan fondasi masa depan.

Ruang Kota sebagai Ruang Dialog: Belajar dari Taman Musik Bandung

Kota bukan sekadar infrastruktur, tetapi ruang hidup bersama. Taman kota, dalam konteks ini, bukan hanya elemen estetika atau “asesoris pelengkap”, melainkan ruang interaksi sosial, ekspresi komunitas, dan bahkan demokrasi sehari-hari.

Sejak diperkenalkannya taman tematik pada 2014, Kota Bandung telah menghadirkan lebih dari 26 taman dengan berbagai fungsi: edukasi, olahraga, hingga ruang kreatif. Salah satu yang menonjol adalah Taman Musik Bandung (TMB), yang sejak 2018 di bawah pengelolaan Kang Umar Komarudin telah memfasilitasi sekitar 400 kegiatan komunitas.

Namun, cerita ini juga menyisakan catatan kritis. Penataan ulang oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) justru menghadirkan tantangan baru, terutama dalam hal aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia (DILANS).

Aktivitas yang sebelumnya hidup mulai menurun, sebuah pengingat bahwa pembangunan fisik tanpa perspektif inklusi dapat secara tidak langsung mengecualikan mereka yang paling membutuhkan ruang tersebut.

Dari sini kita belajar bahwa ruang terbuka hijau (RTH) yang inklusif bukan hanya soal keberadaan, tetapi juga tentang siapa yang benar-benar bisa mengakses dan merasakannya.

Komunitas sebagai Garda Depan: Pengelolaan Risiko Bencana di Asia-Afrika

Jika di tingkat kota kita berbicara tentang ruang, maka di tingkat regional kita berbicara tentang ketahanan. Kota-kota di Asia dan Afrika menghadapi spektrum krisis yang saling berkelindan: perubahan iklim, degradasi lingkungan, kemiskinan, konflik, hingga gangguan rantai pasok global.

Dengan populasi mencapai sekitar 4 miliar orang di lebih dari 100 negara, pendekatan top-down saja tidak cukup. Di sinilah community-based disaster risk reduction (DRR) menjadi sangat penting.

Lebih dari itu, sekitar 800 juta penyandang disabilitas di kawasan ini berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap bencana dan krisis. Ketahanan kota tidak bisa dilepaskan dari sejauh mana ia mampu melindungi kelompok paling rentan.
Pendekatan berbasis komunitas menawarkan jalan alternatif, bahkan pelengkap bagi keterbatasan negara dan institusi formal. Iah memungkinkan lahirnya solusi yang kontekstual, berbasis pengetahuan lokal, dan lebih responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan kata lain, inklusi dalam DRR bukan sekadar agenda sosial, tetapi strategi utama untuk membangun ketahanan yang sesungguhnya.

Dari Bandung ke Dunia: Menggalang 3.500 Kota Asia-Afrika

Di tengah melemahnya peran lembaga global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), muncul pertanyaan mendasar: siapa yang akan memimpin perubahan?

Saat ini, sistem multilateral menghadapi kebuntuan. Konflik geopolitik, kepentingan unilateral, serta keterbatasan mandat membuat banyak persoalan global, dari krisis iklim hingga ketimpangan pembangunan yang tidak terselesaikan secara efektif.

Namun, harapan tidak harus selalu datang dari pemerintahan nasional.

Semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) mengajarkan kita bahwa solidaritas lintas negara Global South dapat menjadi kekuatan alternatif. Hari ini, semangat itu bisa diperluas, bukan hanya antar negara, tetapi antar kota.

Jika 3.500 kota di Asia-Afrika bersatu dalam agenda bersama:  Membangun kota yang inklusif bagi DILANS,  Menguatkan ketahanan berbasis komunitas,   Mendorong transisi ekologis yang adil, Mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh diplomasi global

Kota, dengan kedekatannya pada warga, memiliki fleksibilitas dan kecepatan yang sering kali tidak dimiliki oleh negara atau lembaga internasional.

Menjahit Tiga Benang Merah: Inklusi sebagai Fondasi

Dari Taman Musik Bandung, kita belajar tentang pentingnya ruang inklusif. Dari DRR Asia-Afrika, kita memahami urgensi ketahanan berbasis komunitas.

Dari refleksi Konferensi Asia-Afrika, kita melihat potensi solidaritas kota sebagai kekuatan global baru.

Ketiganya mengarah pada satu kesimpulan:
inklusi harus menjadi fondasi dalam setiap proses pembangunan.

DILANS Voices tidak hanya menjadi ruang siaran, tetapi juga ruang gerakan dalam menghubungkan aktor lokal dengan global, pengalaman dengan kebijakan, dan suara komunitas dengan arah masa depan.

Karena pada akhirnya, kota yang inklusif bukan hanya kota yang ramah bagi sebagian orang, tetapi kota yang memungkinkan semua orang untuk hidup, berpartisipasi, dan bermakna.**(rm/BNN)

Leave a Response