Disabilitas

Yang Terlihat, Yang Disembunyikan, dan Yang Disingkirkan

Farhan Helmy

39views

 

Pagi ini saya berdiskusi hampir satu jam dengan seorang kawan, Noer Fauzi Rachman, seorang scholar-activist yang saya kenal sejak mahasiswa. Sejak lama menekuni reformasi agraria, sekaligus mengembangkan psikologi komunitas di Fakultas Psikologi UNPAD dimana dia berasal.

Oleh Farhan Helmy

AWALNYA sederhana. Saya ingin memperkuat argumen buku saya yang sedang dalam proses editing akhir: DILANSnomics: Reimagining Economic Systems through Accessibility, Participation, and Resilience.

Saya mengatakan bahwa saya bisa memahami, bahkan bersimpati, pada posisi pemerintah di berbagai negara yang saat ini menghadapi tekanan krisis global, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, dengan sejarah ketegangan yang telah berlangsung lebih dari empat dekade.

Dampaknya sangat nyata, dalam perang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu, dan entah kapan akan berhenti. Harga BBM meningkat, rantai pasok terganggu, kebijakan berubah.

Dan seperti biasa, kelompok yang paling terdampak adalah: penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Namun semakin kami berdiskusi, semakin terasa ada sesuatu yang tidak cukup.  Selama ini, kita terbiasa menalar persoalan dengan induksi dan deduksi. Mengumpulkan data, lalu menarik kesimpulan. Atau berangkat dari premis, lalu menurunkannya menjadi kebijakan. Semua tampak logis. Rapi. Masuk akal.

Tapi bagaimana jika realitas tidak bekerja sesederhana itu? Bagaimana jika yang paling menentukan justru bukan yang terlihat, melainkan yang disembunyikan? Di titik itu, saya mulai merasa bahwa persoalan kita bukan sekadar kekurangan data, atau bahkan kesalahan analisis. Melainkan cara kita memahami realitas itu sendiri.

Induksi dan deduksi bekerja pada apa yang terlihat. Namun realitas sosial selalu memiliki lapisan lain, yang tidak sepenuhnya hadir dalam angka, indikator, atau bahkan kebijakan. Ada pengalaman hidup. Ada eksklusi. Ada relasi kuasa. Dan,  semua itu hadir dalam banyak persoalan yang kita saksikan setiap hari. Seringkali terang-benderang, namun tetap tak benar-benar kita pahami.

Dan justru di situlah persoalan sesungguhnya bersembunyi. Barangkali karena itu, sejarah tidak pernah benar-benar netral. Ia bukan sekadar kumpulan peristiwa, melainkan kontradiksi yang terus bergerak. Dan dalam kontradiksi itu, saya semakin melihat satu hal dengan lebih jelas:

“The history of disability exclusion is a specific dialectical contradiction within capital accumulation.” Eksklusi bukan kebetulan. Ia bukan sekadar kegagalan sistem. Ia adalah bagian dari cara sistem itu bekerja.

Namun diskusi pagi ini juga mengingatkan saya pada sesuatu yang lebih mendasar: Bahwa persoalannya bukan hanya pada apa yang kita pikirkan, tetapi bagaimana kita berpikir. Kita terlalu sering menggunakan teori untuk membenarkan realitas, alih-alih membangun teori dari realitas itu sendiri. Padahal, berteori seharusnya adalah proses yang lahir dari realitas, dan terus diuji oleh realitas. Bukan hafalan. Dan bukan upaya memaksakan rujukan untuk mengkerangkeng kenyataan.

Dan mungkin di situlah tantangan kita hari ini: Bukan hanya memahami apa yang terlihat, tetapi berani mengungkap apa yang disembunyikan, dan menyadari siapa yang selama ini disingkirkan. Karena itu, bagi saya:  “DILANSnomics is not merely a framework. It is a proposed synthesis.” Mungkin persoalan kita bukan karena kita tidak cukup rasional. Tapi karena kita terlalu lama percaya bahwa rasionalitas itu netral.

Karena itu, saya mengajukan satu pertanyaan kepada kawan saya: Jika dalam sejarah, trauma dan konflik global melahirkan gelombang pemikiran kritis seperti yang kita lihat pada lahirnya Mazhab Frankfurt, mungkinkah momentum hari ini juga menuntut hal yang sama?

Bahwa kali inipun bukan sekadar krisis biasa, tetapi panggilan sejarah bagi para intelektual dan aktivis untuk kembali berpikir, dan bergerak bersama. Bandung, 3 April 2026. ** Farhan Helmy adalah President Dilans Indonesia bertempat tinggal di Kota Bandung

Editor : \Riantro Muradi

Leave a Response