Bandung RayaNasional

Antara Euforia dan Refleksi: Potret Umat Islam di Tengah Dua Tahun Baru

201views

Ditulis Oleh: H. Iding Mashudi
(Humas Dai Polresta Bandung)
Tanggal: 30 Desember 2025

BANDUNGPOS ID.
Fenomena umat Islam yang lebih meramaikan Tahun Baru Masehi adalah potret sosial yang lahir dari pertemuan panjang antara agama, budaya, dan sistem kehidupan modern. Ia bukan sekedar soal perayaan semata, melainkan cerminan bagaimana umat beragama hidup di tengah arus global yang nyaris seragam dalam menandai waktu dan momentum penting.

Kalender Masehi telah menjadi sistem resmi di sebagian besar negara dan dunia internasional. Seluruh aktivitas publik—mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga agenda pemerintahan—berpijak pada hitungan ini. Dalam kondisi seperti itu, umat Islam secara sosial ikut terlibat karena ruang hidupnya memang diatur oleh kalender yang sama, bukan berarti “larut” dalam makna yang negatif.

Di sisi lain, Tahun Baru Masehi hadir dengan kemasan yang sangat kuat. Media, industri hiburan, dan pusat-pusat ekonomi membangun suasana meriah melalui konser, pesta rakyat, kembang api, dan narasi “harapan baru”. Pesan ini disebarkan secara masif sehingga membentuk kebiasaan kolektif yang sulit dihindari, bahkan bagi mereka yang tidak mengira sebagai hari raya agama.

Sementara itu, Tahun Baru Hijriah sering tampil dalam wajah yang lebih sunyi. Peringatannya terbatas pada pengajian, doa bersama, atau kegiatan keagamaan yang cakupannya relatif sempit. Nilai hijrah yang besar—perubahan positif, pengorbanan, dan perjuangan menuju kebaikan—kerap tidak dikemas secara komunikatif dan menarik bagi generasi luas, terutama di ruang publik.

Minimnya pemahaman sejarah juga berperan penting. Banyak umat Islam yang belum sepenuhnya menyadari bahwa penanggalan Hijriah lahir dari peristiwa monumental yang mengubah arah dakwah dan peradaban Islam: berpindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Tanpa memperkuat narasi sejarah dan filosofis ini, 1 Muharram kehilangan daya gaung dan relevansi di ruang publik yang ramai.

Fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran orientasi keberagamaan pada sebagian umat. Mereka lebih tertarik pada perayaan-perayaan simbolis dan euforia sesaat, dibandingkan refleksi mendalam dan muhasabah diri. Tahun Baru Masehi terasa ringan dan menyenangkan, sementara Tahun Baru Hijriah menuntut kesadaran diri dan perubahan sikap hidup yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, ini bukan soal mengharamkan atau membenarkan keramaian semata, melainkan tentang kesadaran identitas keislaman yang kuat. Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi momen hijrah batin yang bermakna, memperbarui niat dan komitmen untuk hidup sesuai ajaran Islam. Di sanalah waktu menemukan maknanya yang sesungguhnya—notasi sekadar yang dirayakan, tetapi nilai yang dihayati sebagai amanah dari Tuhan

Leave a Response