
Oleh : Epriyanto Kasmuri
APAPUN yang namanya gelisah, efeknya pasti tak nyaman. Ya, ada kegelisahan yang perlahan tapi pasti mulai terasa di tubuh olahraga Jawa Barat. Pasalnya, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang seharusnya menjadi panggung pembuktian dan ruang lahirnya talenta-talenta baru justru dibayangi ketidakpastian yang mendasar, yakni ihwal anggaran yang belum cair.
Namun persoalannya tidak berhenti pada angka-angka di atas kertas. Yang lebih mengkhawatirkan adalah komunikasi yang belum terlihat jelas antara pimpinan KONI Jawa Barat dan para pemangku kebijakan anggaran di pemerintah provinsi Jawa Barat. Bahkan, relasi antara pimpinan KONI dan kepala daerah pun menjadi sorotan, seolah ada jarak yang belum terjembatani.
Situasi ini dengan cepat memunculkan spekulasi di ruang publik. Ketika komunikasi tidak terbuka, maka asumsi akan mengambil alih. Dugaan mengenai kurang harmonisnya hubungan antara KONI Jawa Barat dan kepala daerah pun menguat. Terlepas dari benar atau tidaknya, satu hal yang pasti: ketidakjelasan ini menciptakan ketidakpastian. Dan dalam dunia olahraga, ketidakpastian adalah musuh terbesar dari pembinaan.
Di tengah kondisi seperti ini, pihak yang paling terdampak bukanlah para pengambil keputusan, melainkan para atlet. Mereka yang setiap hari berlatih, menjaga disiplin, dan menggantungkan harapan pada ajang seperti Porprov, kini dihadapkan pada situasi yang tidak menentu. Padahal Porprov bukan sekadar kompetisi rutin. Ia adalah bagian penting dari rantai pembinaan, sebuah ajang untuk membidik, mengasah, dan menyiapkan atlet menuju level yang lebih tinggi, termasuk PON 2028 yang akan digelar di NTT-NTB serta sebagian cabang olahraga di Jakarta.
Ketika ruang pembinaan ini terganggu, dampaknya bisa panjang. Atlet yang tidak mendapatkan kejelasan akan mulai mencari kepastian di tempat lain. Dan fenomena ini bukan sekadar kemungkinan, tetapi sudah mulai terjadi. Beberapa cabang olahraga seperti renang dan atletik dikabarkan mulai kehilangan atletnya yang memilih berpindah ke daerah lain yang dianggap mampu memberikan dukungan lebih jelas. Ini bukan sekadar kehilangan individu, tetapi potensi hilangnya masa depan prestasi Jawa Barat.
Pertanyaannya menjadi sangat sederhana namun juga mendesak, yaitu apakah kita akan menunggu sampai semakin banyak atlet berprestasi Jawa Barat hengkang ke daerah lain? Atau justru ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk menurunkan ego, membuka ruang dialog, dan membangun kembali komunikasi yang sehat?
Dalam situasi seperti ini, peran pimpinan menjadi sangat krusial. KONI sebagai motor penggerak olahraga daerah perlu mengambil langkah proaktif untuk menjembatani komunikasi dengan pemerintah daerah. Di sisi lain, kepala daerah dan pemangku kebijakan anggaran juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa olahraga tetap mendapatkan perhatian yang proporsional. Koordinasi dan konsolidasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak jika kita ingin menjaga keberlanjutan prestasi.
Jawa Barat bukan daerah biasa dalam peta olahraga nasional. Rekor sebagai juara umum PON tiga kali berturut-turut bukanlah pencapaian yang datang secara instan. Ia adalah hasil dari ekosistem yang terbangun dengan kerja keras, konsistensi, dan kolaborasi banyak pihak. Karena itu, mempertahankannya membutuhkan komitmen yang sama, jika tidak lebih besar.
Tulisan ini bukan untuk menyudutkan satu pihak, melainkan sebagai ajakan untuk semua yang peduli terhadap olahraga Jawa Barat. Kita perlu lebih kritis membaca situasi, lebih peka terhadap dampak yang mungkin timbul, dan lebih berani mendorong solusi. Ego sektoral harus dikesampingkan, digantikan dengan semangat kolaborasi. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah ajang Porprov, tetapi masa depan atlet, keberlanjutan prestasi, dan identitas Jawa Barat sebagai barometer olahraga nasional.
Jika hari ini kita memilih diam, maka kita sedang memberi ruang bagi kemunduran. Namun jika semua pihak mau duduk bersama, membuka komunikasi, dan mengambil langkah nyata, maka Porprov bukan hanya bisa terselamatkan, tetapi juga kembali menjadi titik tolak lahirnya generasi juara berikutnya.***
*Penulis ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jawa Barat terpilih masa bakti 2026-2030





