Uncategorized

ADPIKI Perkuat Peran Ilmu Komunikasi untuk Sinergi Riset dan Inovasi di Era Digital

8views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia menegaskan pentingnya penguatan ilmu komunikasi dalam mendukung sinergi riset, hilirisasi inovasi, dan pembangunan nasional di tengah derasnya transformasi digital. Penegasan tersebut disampaikan dalam Simposium Nasional, Deklarasi, dan Pelantikan Pengurus Pusat ADPIKI yang berlangsung di IPB International Convention Center, Kamis (07/05/2026).

Kegiatan itu menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, sebagai keynote speaker dengan tema “Peran dan Tanggung Jawab Ilmu Komunikasi: Sinergi dan Hilirisasi Riset Kini dan Masa Depan”.

Dalam paparannya, Arif Satria menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap komunikasi publik secara signifikan. Menurutnya, media arus utama kini tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi karena masyarakat dapat berperan sebagai produsen sekaligus penyebar informasi melalui berbagai platform digital.

Ia menyebut algoritma media sosial memiliki pengaruh besar dalam menentukan arus informasi, preferensi publik, hingga pembentukan persepsi masyarakat.

“Hari ini semua orang bisa menjadi sumber berita dan algoritma memiliki pengaruh besar dalam menentukan apa yang dilihat dan dipercaya publik. Akibatnya, komunikasi sering kali tidak lagi berorientasi pada substansi, tetapi mengejar viralitas,” ujar Arif Satria.

Menurutnya, komunikasi di era digital juga kerap digunakan untuk membangun opini dan kepercayaan publik terhadap individu maupun institusi. Karena itu, menjaga kredibilitas menjadi tantangan utama di tengah derasnya arus informasi dan persaingan narasi di ruang digital.

Arif menambahkan bahwa penguatan relasi sosial dan jejaring yang sehat menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas komunikasi publik.

“Komunikasi pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun relasi sosial dan menghadirkan kredibilitas yang dipercaya masyarakat,” katanya.

Era AI Picu Tantangan Baru dalam Komunikasi

Ketua Dewan Pertimbangan ADPIKI, Antar Venus, menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah memunculkan fenomena banjir informasi yang memicu berbagai tantangan baru, mulai dari misinformasi, disinformasi, hingga infodemi.

Ia menegaskan bahwa ilmu komunikasi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan informasi yang beredar tetap akurat, berbasis ilmu pengetahuan, serta mampu membangun masyarakat yang kritis dan beretika di ruang digital.

“Di era digital dan AI, komunikasi bukan lagi sekadar proses penyampaian pesan tetapi menjadi arena pembentukan realitas sosial. Karena itu, ilmu komunikasi harus hadir untuk memastikan informasi yang beredar tetap faktual, etis, dan mencerdaskan masyarakat,” ujar Antar Venus.

Menurutnya, pendekatan komunikologis diperlukan untuk menghadapi dominasi algoritma dan derasnya arus informasi digital yang dapat memengaruhi pola pikir serta pengambilan keputusan publik.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan literasi digital, komunikasi sains, kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, etika AI, perlindungan data pribadi, hingga pengendalian konsumsi informasi digital agar masyarakat tidak mengalami information overload maupun kelelahan digital.

Ketua Umum ADPIKI, Heri Budianto, mengatakan pembentukan ADPIKI merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi dosen dan peneliti ilmu komunikasi sebagai komunitas epistemik yang solid dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional.

Menurutnya, selama ini belum ada wadah nasional yang secara khusus merepresentasikan dosen dan peneliti ilmu komunikasi dalam kebijakan pendidikan tinggi maupun riset nasional.

“ADPIKI hadir untuk membangun representasi kolektif dosen dan peneliti ilmu komunikasi, memperkuat legitimasi profesi, serta mengintegrasikan jejaring riset nasional guna meningkatkan daya saing publikasi, inovasi, dan hilirisasi keilmuan komunikasi,” kata Heri Budianto.

Ia berharap ADPIKI dapat menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan praktisi komunikasi dalam menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk penguatan literasi publik, tata kelola informasi nasional, demokrasi digital, dan pengembangan industri kreatif.

“Kami ingin ADPIKI menjadi wadah yang mampu menyatukan gagasan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata ilmu komunikasi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional,” ujarnya.

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah akademisi, organisasi profesi komunikasi nasional, serta mitra internasional dari University of British Columbia. Selain simposium nasional, agenda dilanjutkan dengan deklarasi resmi pendirian ADPIKI, pelantikan pengurus pusat periode 2026–2031, dan Rapat Kerja Nasional pertama sebagai langkah awal memperkuat jejaring dosen dan peneliti ilmu komunikasi di Indonesia.(ask)***

Leave a Response