Pesantren Mahasiswa Unisba Hadirkan ICMI, Bahas Ketahanan Keluarga di Era AI hingga Kewirausahaan

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Universitas Islam Bandung menghadirkan Ikatan Cendekia Muslim Indonesia sebagai narasumber dalam kegiatan Pesantren Mahasiswa yang berlangsung di Kampus 2 Unisba, Ciburial, Selasa (5/5). Kegiatan ini mengangkat tema “Ketahanan Keluarga di Era Artificial Intelligence” dengan menghadirkan enam pemateri dari berbagai disiplin ilmu.
Acara dipandu Ketua LPI3M Unisba, Parihat Kamil, dan menghadirkan sejumlah tokoh ICMI, yakni Riri Fitri Sari, Didin Muhafidin, Bambang Sutrisno, Dewi Inong Irana, Tuty Mariani, serta Herawati Tarigan.
Dalam pemaparannya, Riri Fitri Sari menjelaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga ekonomi digital.
Menurutnya, teknologi AI memang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga menghadirkan tantangan baru seperti berkurangnya interaksi keluarga, gangguan psikologis pada anak, hingga perilaku menyimpang akibat penggunaan teknologi yang tidak tepat.
Karena itu, ia menilai literasi digital, komunikasi terbuka dalam keluarga, dan pendidikan karakter sejak dini menjadi hal penting untuk menghadapi perkembangan teknologi.
“Dampak AI pada keluarga akan bergantung pada bagaimana penggunaannya. Jika digunakan secara bijak, AI dapat menjadi kekuatan yang baik, membantu keluarga menjadi lebih terhubung, produktif, dan efisien,” ujarnya.
Mahasiswa Diingatkan Menjaga Kesehatan dan Pergaulan
Pemateri berikutnya, Dewi Inong Irana, membahas kesehatan generasi muda dan bahaya perilaku seks bebas, narkoba, pornografi, serta penyakit infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS.
Ia mengingatkan mahasiswa agar menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah pengaruh gaya hidup digital yang semakin terbuka.
Menurutnya, perilaku seksual berisiko dapat menyebabkan berbagai dampak serius, seperti kehamilan di luar nikah, penyebaran IMS dan HIV/AIDS, hingga gangguan kesehatan jangka panjang.
Ia juga mengajak mahasiswa menerapkan pola hidup sehat dengan menjauhi narkoba, pornografi, rokok, minuman keras, dan perilaku seksual yang berisiko.
Materi selanjutnya disampaikan Didin Muhafidin yang membahas pandangan Islam terhadap perilaku seksual menyimpang. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan umat untuk menjaga kehormatan diri dan menyalurkan hasrat seksual melalui pernikahan yang sah.
Ia juga mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis mengenai larangan hubungan seksual di luar pernikahan maupun hubungan sesama jenis.
Menurutnya, perilaku seksual menyimpang tidak hanya bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga berdampak negatif terhadap kehidupan sosial dan ketahanan bangsa.
“Perilaku seks menyimpang merupakan kesenangan syetan yang tertinggi dan bisa menimbulkan bencana yang sangat dahsyat untuk seluruh negara,” ujarnya.
Generasi Z Perlu Perkuat Karakter di Era Digital
Tuty Mariani menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi dengan dominasi generasi Z dan milenial sebagai kelompok usia produktif.
Menurutnya, generasi muda hidup di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang memberikan banyak peluang dalam pendidikan maupun usaha mandiri. Namun, derasnya arus informasi juga berpotensi memicu krisis identitas, ketergantungan digital, hingga perilaku menyimpang apabila tidak diimbangi penguatan karakter dan pendidikan agama.
Ia menilai keluarga, lingkungan pendidikan, serta layanan konseling kampus memiliki peran penting dalam membangun ketahanan generasi muda menghadapi tantangan era digital.
“Kembalilah kepada agama yang memberi tuntunan ke jalan benar dan menjauhi larangan-Nya,” tuturnya.
Sementara itu, Bambang Sutrisno menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix dalam mendorong pertumbuhan kewirausahaan di Indonesia. Menurutnya, keberadaan wirausaha menjadi indikator penting kemajuan negara karena mampu menciptakan lapangan kerja, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut rasio wirausaha Indonesia saat ini masih sekitar 3,6 persen dari total populasi sehingga dibutuhkan keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media untuk mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha baru.
Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan peluang ekonomi digital, ekonomi hijau, dan hilirisasi industri sebagai ruang berkembangnya kewirausahaan generasi muda.
“Negara membutuhkan wirausaha untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Pemateri terakhir, Herawati Tarigan, membahas pengendalian penyebaran LGBT melalui pendekatan kesehatan, dakwah, pendidikan, media, hingga regulasi hukum.
Menurutnya, pendekatan kesehatan dilakukan untuk membantu individu secara fisik dan psikologis, sedangkan pendekatan dakwah dan pendidikan memerlukan dukungan kebijakan serta fatwa keagamaan.
Ia juga menilai regulasi melalui undang-undang diperlukan sebagai bagian dari upaya pengendalian penyebaran LGBT di masyarakat.
Melalui kegiatan Pesantren Mahasiswa ini, Unisba berharap mahasiswa dapat memperkuat karakter, wawasan, dan kesadaran dalam menghadapi tantangan sosial serta perkembangan era digital, sekaligus menjadi generasi muda yang sehat, berintegritas, berdaya saing, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.(ask)***





