Kolom Sosial Politik

Jatuh Cinta

253views

 

Oleh: Ridhazia

JATUH  cinta bisa terasa luar biasa. Tapi pernahkah bertanya, dari mana asal-usul cinta, apakah dari mata turun ke hati sebagaimana pepatah kuno.

Ternyata, para ahli neuroscience berpendapat cinta bukan sebatas urusan perasaan semata, tapi cinta itu hasil proses kimiawi di dalam otak.

Jatuh Cinta

Menurut studi ilmiah dari Frontiers in Psychology (2021) perasaan jatuh cinta hanya berlangsung enam bulan yang disebut sebagai fase romantis.

Pada fase ini, setiap pasangan akan merasa sangat terhubung, intim, dan penuh gairah. Setelah itu kembali seperti biasa saja.

Tapi pada periode biasa saja itulah para peneliti mencatat kalau intensitas komitmen dan rasa nyaman pasangan mulai tumbuh menjadi fondasi untuk bertahan lama.

Cinta itu Neurokimia

Secara garis besar, tahap awal jatuh cinta biasanya terbagi menjadi tiga kategori yaitu lust (nafsu), attraction (ketertarikan), dan attachment (keterikatan).

Semua tahapan itu kata ahli saraf di California, Amerika Serikat, Dr. Fred Nour memposisikan cinta bukan lagi urusan hati saja. Tapi dominan otak.

Peneliti cinta Katherine Wu, PhD, dari Harvard juga sependapat bahwa cinta dibentuk oleh kombinasi hormon dan respons neurokimia dalam otak.

Ia menjelaskan, cinta senyatanya dipicu oleh hormon testosteron dan estrogen yakni dua hormon seks utama pria dan wanita.

Kemudian dikendalikan oleh dopamin, serotonin, dan norepinefrin yang berperan penting menciptakan suasana hati positif.

Sedangkan keterikatan pasangan cinta dibentuk oleh oksitosin — yang disebut sebagai “hormon cinta” — yang berfungsi menopang ikatan sosial, dan ikatan emosional, termasuk kebutuhan seksual. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response