Kolom Sosial Politik

Keistimewaan HAJAR ASWAD

531views

 

Oleh Ridhazia

Hajar Aswad yang diyakini umat Islam sebagai batu mulia dari surga telah menarik perhatian para ilmuwan.

Terutama terkait asal usul perubahan dari batu yang semula berwarna putih susu menjadi hitam pekat.

Batu yang terletak di salah satu sudut Ka’bah dekat pintu emas itu hingga kini masih menyisakan misteri yang tak berujung.

Istimewa

Batu hitam di Kabah diistimewakan umat Islam di Masjidil Haram itu toh tetap saja menyimpan misteri.

Sifat ilmiah bukan jawaban akhir segalanya. Bahkan telah banyak diperdebatkan. Sebutan sebagai batu basal, batu akik, hingga meteorit dari luar angkasa, masih tetap tentatif.

Melansir Geology Page, meski begitu para ahli geologi hingga kini masih ragu untuk mengungkap kebenaran batu itu sejenis batu obsidian karena masih ada bukti ilmiah yang belum dapat dibuktikan.

Hasil penelitian sejak abad ke -18 hingga kini belum sepenuhnya menjadi acuan kebenaran sains sebagaimana pernah ditemukan oleh Paul Partsch dalam laporan komprehensif pertama tentang Black Stone pada 1857.

Pada tahun 1980, Elsebeth Thomsen dari Universitas Koopenhagen menduga-duga bahwa Hajar Aswad mungkin merupakan pecahan dari benturan meteorit yang terfragmentasi, yang jatuh sekitar 6.000 tahun yang lalu

Malah peneliti Anthony Hampton dan tim ahli geologi dari Universitas Oxford mempelajari sampel lokal yang dikumpulkan dari emplasemen batu hanya menemukan sejumlah iridium dan pecahan kerucut tapi belum memberi jawaban pasti.

Sejak Abad 18

Temuan geologi lain sebatas menduga-duga kalau batu hitam di Masjidil Haram itu sejenis batuan dasar di bawah kawah tumbukan meteorit sebagaimana ditemukan oleh peneliti Paul Partsch, yang menerbitkan laporan komprehensif pertama tentang Black Stone pada 1857.

Pada tahun 1980, Elsebeth Thomsen dari Universitas Koopenhagen mengusulkan bahwa Hajar Aswad mungkin merupakan pecahan dari benturan meteorit yang terfragmentasi, yang jatuh sekitar 6.000 tahun yang lalu.

Sebuah studi yang dilakukan oleh United States Geological Survey mengatakan bahwa Hajar Aswad mungkin adalah obsidian dari aliran lava yang umum di salah satu Harrat (ladang vulkanik) yang ditemukan pesisir Arab bagian barat.

Terakhir peneliti Robert S Dietz and John McHone dari Departemen Geology di Universitas Ilinois, Amerika Serikat mengatakan Hajar Aswad bukan berasal dari batuan meteorit.

Sikap Raja Arab Saudi

Kerajaan Arab Saudi merilis beberapa foto baru Hajar Aswad secara tegas belum memastikan asal usul batu hitam itu.

Hajar Aswad menempel di Ka’bah memiliki diameter 30 sentimeter dan berada 1,5 meter dari permukaan tanah itu didalam foto digambarkan terpecah menjadi beberapa bagian dari kerusakan.

Potongan-potongan itu sudah disatukan oleh bingkai perak yang diikat pada sebuah batu yang hingga kini menempel di Ka’bah.

Batu hitam yang memiliki diameter 30 sentimeter dan berada 1,5 meter dari permukaan tanah itu tetap saja disucikan.*

  * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response