Uncategorized

Unisba Perkuat Gerakan Mahasiswa Berdampak melalui Sosialisasi Program Aksara Mahasiswa 2026

19views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi tuan rumah Sosialisasi Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) Tahun 2026, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam melahirkan mahasiswa berdampak, yakni generasi yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.

Program yang digagas Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut diikuti sekitar 300 peserta dari 65 perguruan tinggi di Jawa Barat dan Banten. Peserta terdiri atas dosen calon pengusul program, pimpinan bidang kemahasiswaan, serta pengurus organisasi kemahasiswaan.

Melalui Program Aksara Mahasiswa, mahasiswa didorong menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Para dosen berperan sebagai pendamping yang menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat sehingga inovasi kampus dapat diimplementasikan secara langsung. Program ini merupakan implementasi amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Rektor Unisba: Kampus Harus Menjadi Bagian dari Solusi

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat, bukan sekadar menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.

Menurutnya, Unisba telah menerapkan konsep Mahasiswa Berdampak melalui beragam program pengabdian. Salah satu program unggulannya adalah gerakan zero waste di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Program tersebut memanfaatkan teknologi plasma dingin dan pendekatan rekayasa sosial di 50 RW, serta berhasil memperoleh rekognisi sebagai Kampus Berdampak.

Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat terus diperluas agar semakin banyak inovasi mahasiswa yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Kepala LLDikti Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., menyampaikan bahwa Unisba kembali dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak untuk kedua kalinya.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menunjukkan konsistensi Unisba dalam memperkuat budaya pengabdian masyarakat di lingkungan perguruan tinggi.

Ia juga mengungkapkan bahwa minat perguruan tinggi untuk mengikuti hibah pengabdian masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, keterbatasan anggaran menyebabkan tidak semua proposal terbaik dapat memperoleh pendanaan.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat meningkatkan alokasi anggaran sehingga lebih banyak inovasi mahasiswa yang dapat diwujudkan melalui program pengabdian.

Dalam kesempatan itu, Lukman memperkenalkan program Sorot, yaitu dokumentasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan pengabdian masyarakat dalam bentuk film pendek. Setiap perguruan tinggi akan mengirimkan karya terbaiknya untuk diseleksi di tingkat LLDikti Wilayah IV.

Bandung Jadi Kota Kedua Sosialisasi Nasional

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, Prof. Apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa Bandung menjadi kota kedua pelaksanaan sosialisasi nasional Program Aksara Mahasiswa setelah Bali.

Selanjutnya, kegiatan serupa akan digelar di Semarang, Makassar, Palembang, dan Medan agar semakin banyak perguruan tinggi memahami mekanisme pelaksanaan program.

Ia menjelaskan bahwa Program Aksara Mahasiswa dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, idealisme, dan inovasi sehingga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga menjadi penghubung antara hasil inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujarnya.

Program Aksara Mahasiswa Tahun 2026 memiliki dua skema utama, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular.

Aksara Peduli difokuskan pada pemberdayaan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kawasan kemiskinan ekstrem, serta daerah rawan bencana dengan fokus pada isu pangan, energi, dan kesehatan.

Sementara itu, Aksara Sirkular diarahkan pada pengelolaan sampah rumah tangga melalui pendekatan ekonomi sirkular, terutama di daerah yang telah memiliki fasilitas TPS 3R seperti DKI Jakarta, Kota Bogor, Kota Bandung, dan Kota Denpasar.

Bandung menjadi salah satu daerah prioritas nasional dengan keterlibatan 84 perguruan tinggi, menjadikannya wilayah dengan jumlah kampus terbanyak kedua yang berpartisipasi dalam program pengelolaan sampah tersebut.

Peserta Mendalami Strategi Penyusunan Proposal

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti empat sesi diskusi panel yang membahas kebijakan Program Mahasiswa Berdampak, mekanisme pengusulan, penyusunan proposal, hingga tata kelola administrasi dan keuangan.

Peserta juga memanfaatkan sesi konsultasi langsung dengan para narasumber untuk memperoleh masukan mengenai strategi penyusunan proposal agar memiliki peluang lebih besar memperoleh hibah pendanaan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan sarana pembelajaran yang tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan daya saing mahasiswa.

Menurutnya, pengalaman terjun langsung menyelesaikan persoalan masyarakat akan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa, baik ketika melanjutkan studi, memperoleh beasiswa, maupun memasuki dunia kerja.

Ia menambahkan, banyak perguruan tinggi kelas dunia kini menjadikan impact, kemampuan menyelesaikan masalah, dan pemanfaatan local knowledge sebagai indikator penting dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset.

Karena itu, mahasiswa didorong memanfaatkan Program Aksara Peduli dan Aksara Sirkular untuk lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat, menggali potensi lokal, serta menghasilkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak takut menghadapi kegagalan karena setiap pengalaman pengabdian merupakan bekal berharga untuk menjadi pemimpin masa depan.(ask)***

Leave a Response