Uncategorized

Ketika Panggung Menjadi Cermin Jiwa:  Menelaah Keterkaitan Seni Peran dan Psikologi

14views

Oleh Hasna Atsriya Amna & Najmi Muflih Siregar  (Mahasiswa Fakultas Psikologi Unisba/Kabaret Ungu Fakultas Psikologi Unisba)

PERGELARAN “Mereka Adalah Aku” yang diangkat UPM-F Kabaret Ungu Fakultas Psikologi Unisba bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga contoh nyata bagaimana seni peran dan ilmu psikologi bekerja beriringan. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa proses berteater—baik dari sisi aktor yang memerankan karakter maupun penonton yang menyaksikannya—melibatkan mekanisme psikologis yang cukup dalam.

Titik temu pertama antara seni peran dan psikologi empati, yakni kemampuan memahami perasaan orang lain melalui perspektif orang tersebut. Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe, kemampuan ini menjadi salah satu unsur penting dalam interaksi sosial manusia. Dalam pelatihan keaktoran, aktor dilatih menyelami perasaan karakter sedalam mungkin agar penonton dapat memercayai emosi yang ditampilkan. Menurut Goldstein, proses ini menjadi inti dari terbentuknya empati melalui seni peran. Prinsip “pendidikan perasaan” ini bahkan menjadi bagian dari metode akting Stanislavski yang menjadi rujukan banyak sekolah teater di dunia, termasuk melalui teknik ingatan emosi dan pendalaman karakter. Dalam konteks “Mereka Adalah Aku”, setiap aktor dituntut memahami secara utuh gambaran klinis dari isu psikologis yang diperankan—mulai dari pola pikir, cara bicara, hingga bahasa tubuh—agar representasi yang ditampilkan tidak jatuh pada stereotip, melainkan mendekati kenyataan.

Kedua, konsep katarsis pertama kali dikemukakan Aristoteles pada masa Yunani Kuno sebagai pelepasan emosi negatif penonton melalui teater tragedi. Menurut Bemak dan Young, konsep ini menjelaskan salah satu fungsi psikologis penting dari teater tragedi bagi penontonnya. Menurut Hardy, katarsis adalah proses penyelesaian sebagian atau seluruh perasaan yang mengganjal dengan melepaskan ketegangan batin. Fungsi ini berlaku dua arah: aktor memproses dan menyalurkan energi emosionalnya melalui perannya, sementara penonton turut “berproses” dan merasa lega setelah menyaksikan pertunjukan. Prinsip inilah yang membuat teater menjadi wahana yang tepat untuk membahas topik-topik berat seperti gangguan kepribadian narsistik, bipolar, kecemasan, relasi toxic, maupun PTSD—topik yang bila disampaikan lewat ceramah formal berisiko terasa menggurui tetapi ketika dibungkus lewat kisah dan emosi yang otentik, dapat lebih mudah menyentuh dan diterima penonton.

Menurut Syahutari, studi terhadap aktor kelompok Teater Satu di Lampung menemukan bahwa proses kreatif berteater dapat menumbuhkan berbagai aspek kesejahteraan psikologis menurut kerangka Carol D. Ryff dan Corey L. M. Keyes, yaitu relasi positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri—yang kemudian turut membentuk penerimaan diri dan tujuan hidup. Rasa kepemilikan (belongingness) dan kekompakan kelompok yang terbentuk dari proses latihan bersama secara intensif juga memperkuat kohesivitas tim, sebuah dinamika yang tampak pula pada proses produksi “Mereka Adalah Aku” yang digarap dalam waktu dua bulan dengan intensitas latihan yang meningkat tajam menjelang hari pementasan.

Salah satu keterampilan psikologis penting bagi aktor adalah regulasi emosi, yakni kemampuan menjaga hubungan sehat antara diri sendiri dan lingkungan saat memainkan karakter yang bukan dirinya. Menurut Campos, sebagaimana dikutip Strongman, kemampuan ini penting untuk menjaga kestabilan psikologis aktor selama berperan. Aktor perlu memisahkan unsur kepribadiannya dari unsur karakter yang diperankan, sembari tetap menyisipkan sentuhan personal agar penampilan terasa hidup. Kemampuan ini sejalan dengan teori determinasi diri (self-determination theory) dari Ryan dan Deci, yang menjelaskan bagaimana motivasi intrinsik—dorongan dari dalam diri yang muncul karena kepuasan dan minat pada proses berkarya—menjadi bahan bakar utama para aktor untuk bertahan menjalani latihan yang padat sekalipun waktu persiapannya singkat.

Dalam kajian ilmu seni pertunjukan terapan, teater interaktif dipandang sebagai medium reflektif yang mampu membantu masyarakat memahami realitas sosial sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi. Menurut Schechner dan White, teater interaktif dapat berperan sebagai medium reflektif sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat. Konsep Theatre of the Oppressed dari Augusto Boal menekankan bahwa partisipasi penonton dalam alur cerita dapat menjadi bentuk dialog sosial, bukan sekadar tontonan pasif. Menurut Defito dan rekan, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat berbasis teater interaktif di Bandung bahkan mencatat bahwa pendekatan ini efektif membangun kesadaran sosial peserta serta memberi wawasan baru dalam memaknai realitas kehidupan. Prinsip yang sama tampak pada pendekatan Kabaret Ungu: alih-alih menjelaskan gangguan psikologis secara teoritis, isu tersebut dihidupkan lewat karakter, dialog, dan konflik manusiawi yang dapat langsung dirasakan penonton.

Keterlibatan dalam aktivitas seni, termasuk teater, juga memberi manfaat psikologis bagi pelakunya sendiri. Penelitian terhadap mahasiswa yang aktif dalam kegiatan seni kampus menunjukkan penurunan tingkat stres, peningkatan kesejahteraan emosional, serta terbentuknya rasa komunitas yang lebih kuat di antara anggota kelompok. Menurut Syafi’i, temuan ini menegaskan manfaat psikologis dari keterlibatan aktif dalam kegiatan seni kampus. Keterlibatan penuh dalam proses kreatif memungkinkan individu memasuki kondisi flow, yakni keadaan fokus mendalam yang membantu mengalihkan perhatian dari tekanan akademik maupun personal, sekaligus memperkuat rasa percaya diri melalui pencapaian menyelesaikan sebuah karya bersama.

Di balik manfaat-manfaat tersebut, dunia seni pertunjukan juga menyimpan tantangan psikologis tersendiri, salah satunya stage fright atau kecemasan pertunjukan yang dapat dialami baik oleh aktor pemula maupun yang berpengalaman. Menurut Nordin-Bates, kondisi ini lumrah dijumpai dalam dunia seni pertunjukan. Faktor protektif seperti dukungan sosial yang positif di dalam kelompok serta kebiasaan mengubah cara pandang negatif menjadi lebih konstruktif (positive goal-imaging) terbukti membantu performer mengelola kegelisahan tersebut. Menurut Wilson, faktor-faktor tersebut menjadi pengingat bahwa proses berkesenian, sebagaimana proses belajar lainnya, juga perlu diiringi kesehatan mental yang dijaga baik-baik.

Pagelaran “Mereka Adalah Aku” menegaskan bahwa panggung teater dapat menjadi ruang temu antara seni dan ilmu psikologi: tempat empati dilatih, emosi diregulasi, kesejahteraan psikologis dipupuk, dan edukasi kesehatan jiwa disampaikan dengan cara yang menyentuh, bukan menggurui. Bagi Fakultas Psikologi Unisba, kegiatan semacam ini menjadi salah satu wujud nyata bagaimana ilmu psikologi dapat diaplikasikan secara kreatif untuk kepentingan edukasi dan kesejahteraan masyarakat luas.

“Mereka Adalah Aku”

UPM-F Kabaret Ungu (KBU), unit kegiatan mahasiswa di bawah naungan Departemen Minat dan Bakat BEM Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Masa Bakti 2025/2026, menggelar Pagelaran Seni Kabaret Ungu bertajuk “Mereka Adalah Aku” pada Minggu, 5 Juli 2026, di Auditorium Bandung Creative Hub, Jalan Laswi Nomor 7, Kota Bandung. Pertunjukan berlangsung dua sesi, yakni pukul 10.45–12.45 WIB dan 16.00–18.00 WIB, dengan rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dan ditutup dengan evaluasi panitia pada petang harinya.

Mengangkat tema psikologis yang dekat dengan keseharian, pertunjukan tahun ini menghadirkan kisah tentang “suara-suara yang saling bertabrakan di dalam kepala” dan pergulatan batin seseorang dalam memahami dirinya sendiri. Melalui sembilan babak yang dimainkan para aktor, penonton diajak merenungkan pertanyaan reflektif: apakah wajah-wajah lain yang muncul dalam diri manusia benar-benar sosok yang berbeda, atau sesungguhnya bagian dari diri itu sendiri.

Ketua Pelaksana UPM-F Kabaret Ungu, Najmi Muflih Siregar, menjelaskan bahwa proses penggarapan pertunjukan ini berlangsung sangat singkat, yaitu sekitar tiga bulan efektif sejak April 2026, mencakup penulisan naskah dari nol, penyusunan daftar aktor dan kru, pembagian peran dan job desk, hingga pendalaman karakter. Latihan rutin dijadwalkan tiga kali sepekan pada Senin, Kamis, dan Sabtu, kemudian ditingkatkan menjadi latihan harian pada dua pekan terakhir menjelang pementasan. Proses penggarapan ini turut diarahkan oleh sutradara Hasna Atsriya Amna, yang membimbing pendalaman karakter dan penyusunan alur pementasan bersama seluruh pemeran.

“Jadi setiap aktor itu punya satu isu psikologis yang diperankan, dan dalam dialog maupun gesturnya, kami bentuk supaya semirip mungkin dengan kondisi yang sebenarnya dialami orang dengan kondisi tersebut,” ungkap Hasna Atsriya Amna (sutradara) . Isu-isu yang diangkat dalam naskah antara lain kecenderungan kepribadian narsistik, gangguan bipolar, kecemasan berlebih dan overthinking, relasi yang toxic, serta trauma pascakejadian traumatis (PTSD). Naskah dan gagasan cerita ditulis oleh Akmal Rahman, alumnus Fakultas Psikologi Unisba sekaligus alumnus KBU, yang tahun ini turut mendampingi proses produksi.

Sejak berdiri, Kabaret Ungu memang dirancang bukan semata sebagai wadah berkesenian, melainkan sebagai media pembelajaran psikologi bagi masyarakat luas dengan cara yang menghibur. “Intinya, KBU ini dibangun dari awal untuk mengajarkan atau menjadi media pembelajaran bagi masyarakat tentang psikologi, tapi dengan cara yang menyenangkan—salah satunya lewat teater,” tambah Najmi. Pendekatan ini sejalan dengan semangat psikoedukasi berbasis seni yang belakangan semakin banyak diterapkan di lingkungan kampus sebagai sarana membangun kesadaran kesehatan mental.***

 

Leave a Response