Bandung Raya

Unisba Inisiasi Model Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi dan Social Engineering di Arcamanik

73views

METRO BANDUNG, bandungpos.idUniversitas Islam Bandung (Unisba) mempertegas komitmennya dalam menangani persoalan sampah perkotaan melalui inovasi teknologi dan pendekatan perubahan perilaku masyarakat. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Unisba (LPPM), Unisba menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Program Social Engineering Pengelolaan Sampah di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung” pada Senin (2/3/2026) di Gedung LPPM Unisba.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya merancang sistem pengelolaan sampah terpadu yang menggabungkan solusi teknologi ramah lingkungan dengan penguatan kesadaran kolektif warga.

Program social engineering yang diusung merupakan strategi rekayasa sosial untuk membangun kesadaran serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan ini menitikberatkan pada edukasi, keterlibatan warga, serta integrasi nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah di Kota Bandung.

Ia menyampaikan bahwa Unisba telah mengembangkan inovasi reaktor plasma dingin, teknologi pengolahan sampah yang tidak menghasilkan polusi udara maupun asap.

“Reaktor ini mampu mengolah sekitar satu ton sampah per jam dan berpotensi mengurangi volume sampah Kota Bandung yang mencapai lebih dari 1.500 ton per hari. Namun, keberhasilan teknologi tetap membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber,” jelasnya.

Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kinerja reaktor sangat bergantung pada kondisi sampah yang diproses, terutama kadar airnya.

Hasil uji coba menunjukkan mesin bekerja optimal pada kadar air 20–30 persen. Dalam pengujian sebelumnya, satu ton sampah yang telah dicacah dan dialirkan melalui conveyor dapat diproses dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Ia juga menambahkan bahwa komposisi ideal sampah untuk dimasukkan ke dalam reaktor adalah perbandingan 1:4, yakni satu bagian sampah organik dan empat bagian non-organik. Oleh karena itu, program social engineering diarahkan untuk memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber guna menekan kadar air dan meningkatkan efisiensi pengolahan.

Pemetaan Pengelolaan Sampah di 9 RW Arcamanik

Tim Zero Waste Unisba turut melakukan pemetaan kondisi pengelolaan sampah di TPS Arcamanik yang mencakup sembilan RW. Hasilnya, wilayah tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori: baik, sedang, dan kurang baik.

Sekitar 50 persen wilayah dinilai telah menunjukkan pengelolaan yang cukup baik. Meski demikian, masih terdapat beberapa titik dengan kondisi sampah yang sangat basah sehingga memerlukan intervensi melalui edukasi dan pendampingan, termasuk kepada tim Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si., menilai persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap Kecamatan Arcamanik dapat menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.

“Peradaban masyarakat dapat dilihat dari bagaimana mereka mengelola sampah. Kolaborasi seperti ini penting untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, S.T., M.M., yang menyebut sekitar 60 persen sampah di Kota Bandung merupakan sampah organik, sehingga memerlukan pengelolaan yang lebih terstruktur sejak dari sumbernya.

Dalam forum tersebut, Person in Charge Social Engineering Tim Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., memaparkan rencana implementasi program social engineering di Kecamatan Arcamanik. Presentasi tersebut dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab bersama peserta.

Melalui sinergi teknologi reaktor plasma dingin dan pendekatan perubahan perilaku masyarakat, Unisba menargetkan terwujudnya model pengelolaan sampah yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, serta berpotensi direplikasi di wilayah lain di Kota Bandung.(askur)***

Leave a Response