
Oleh: Ridhazia
USTAZ Muhammad Yahya Waloni wafat saat sedang berkhutbah Shalat Jumat (6/6/2025) di Masjid Darul Falah, Minasa Upa, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Innalillahiwainnailaihirojiun
Wafatnya Sang Ustad menarik perhatian publik. Beberapa tokoh ulama negeri ini menyampaikan duka cita mendalam dan merasa telah kehilangan.
Dari Pendeta
Pria berusia 64 tahun asli kelahiran Manado, Sulawesi Selatan dengan nama keseharian Yahya Yopie Waloni.
Nama itu menjadi populer karena ia pendakwah Islam yang sebelumnya pernah menjadi pendeta. Bahkan dilahirkan dan tumbuh di dalam keluarga militer dan taat beragama Kristen. Ia juga sejak belia sudah menjadi aktivis gereja dan berpendidikan tinggi sebagai doktor teologi Kristen.
Titik Balik
Ia mengaku tertarik dengan Islam sejak kecil karena pergaulan. Bahkan beberapa kali ke masjid menghadiri pengajian.
Melalui pergumulan yang panjang, bahkan melalui isyarat mimpi, keputusan menjadi mualaf baru ditetapkan pada tahun 2006.
Ia tidak sendirian. Tapi mengajak istri dan anak-anaknya. Untuk perpindahan keyakinan, ia menambahkan nama Muhammad di depan namanya. Demikian pula istrinya dari Lusiana menjadi Mutmainnah. Anak-anaknya pun menjadi Nur Hidayah, Siti Sarah, dan Zakaria.
Ustaz Muhammad Yahya Waloni
masih pengkhotbah di gereja hingga menjadi pendakwah di masjid selalu lugas tapi tegas.
Narasi keagamaanya terbuka dam mencerahkan. Ditambah intonasi tinggi rendahnya suara, irama dan alunan bicaranya juga membuat pesan agama terdengar menarik dan selaras.
Artikulasi kata-kata yang diucapkan Sang Ustad jelas dan mudah dipahami. Bahkan pelafalan ayat -ayat pun selaras dengan tema, membuat umat Islam kehilangan tokoh yang dikagumi ini.
Dipenjara
Yahya Waloni pernah divonis 5 bulan penjara, denda Rp 50 juta, subsider 1 bulan penjara. Ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana menyebarkan ujaran kebencian terkait SARA.
Kasus ini bermula ketika pada Rabu, 21 Agustus 2019, terdakwa Yahya Waloni sebagai penceramah diundang oleh DKM Masjid Jenderal Sudirman World Trade Center Jakarta.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





