
Oleh: Ridhazia
DEMONSTRASI akhir Agustus 2025 di Indonesia mendapat perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Terutama penggunaan kekuatan keamanan negara yang dianggap berlebihan.
Sedangkan elit politik di era Presiden Prabowo itu malah menganggap demontrasi mahasiswa, buruh dan masyarakat sipil di Jakarta dan kota besar lainnya sebagai gerakan anarkis.
Belakangan salah seorang elit keamanan menyatakan bahwa kelompok demontrasi itu menganut paham anarkisme. Lebih jauh lagi, para demonstran dituduh berafiliasi dengan jaringan anarkisme internasional.
Demontrasi bukan Anarkisme!
Dalam perspektif anarkisme, demonstrasi bukan tindak anarkis. Demonstrasi juga bukan ekspresi pilihan bebas. Melainkan hasil dari keterpaksaan historis.
Para penganut anarkisme berargumentasi bahwa tidak ada demonstrasi yang muncul dalam ruang hampa.
Setiap demonstrasi adalah ekspresi dari penderitaan yang dialami secara kolektif. Bukan karena agitasi emosional personal. Melainkan sebagai ekspresi atas pengusa yang telah gagal memberikan keadilan yang siginifikan bagi rakyat.
Perspektif anarkisme menganggap demonstrasi sebagai bentuk praksis politik dari rakyat yang mulai sadar akan posisinya dalam relasi rakyat dan penguasa.
Siapa menunggangi?
Tuduhan bahwa demonstran “ditunggangi” sebagaimana dugaan para elit politik yang sedang manggung, bagi faham anarkisme pernyataan itu tak lebih sebagai strategi ideologis kelas penguasa untuk mendelegitimasi gerakan rakyat.
Alih-alih rakyat dituduh ditunggangi, senyatanya kapitalisme menunggangi negara, kaum pemodal menunggangi hukum, dan oligarki menunggangi institusi demokrasi.
Asal Usul Anarkisme
Anarkisme adalah ideologi yang menolak negara dan hierarki atas kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang mengutamakan kepemilikan pribadi dan pasar bebas.
Anarkisme menjadi perlawanan pemikiran yang dibangun oleh filsuf politik abad 19 Pierre-Joseph Proudhon (1809–1865) yang menjanjikan anarkisme sebagai “perlawanan” ideologis kepada kapitalisme sebagai sistem penindasan yang memanfaatkan negara dengan kekerasan.
Sedangkan secara etimologis anarkisme berasal dari bahasa Yunani Kuno anarkhia (ἀναρχία), yang berarti “tanpa penguasa”. Frasa -isme menunjukkan aliran ideologis yang mendukung anarki
Anarkisme vs Kapitalisme
Mayoritas tradisi anarkis, seperti anarkisme sosial sangat enentang kapitalisme. Dalam pergumulan pemikiran anarkisme mengasumsikan bahwa kapitalisme telah menciptakan neraka dunia.
Anarkisme sebagai gerakan politik berupaya menghapuskan semua sistem politik dan ekonomi yang melanggengkan otoritas, paksaan, atau hierarki, terutama yang menyasar negara yang berdasarkan kapitalisme.
Anarkisme bukan tanpa kritik. Kalangan pemuja kapitalisme biasanya menganggap anarkisme sebagai gerakan anti-kapitalis yang kerap mempromosikan teori ekonomi sosialis libertarian. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





