Musik & Budaya

Sajak Muhammad Subhan: “Seribu Kubur Seribu Cahaya”

489views

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Baray, berdarah Aceh-Minang. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku kumpulan cerpennya Jalan Sunyi Paling Duri  (2022) dan  Bensin di Kepala Bapak  (2020). Buku puisinya  Tungku Api Ibu  (2023),  Kesaksian Sepasang Sandal  (2020), dan  Percakapan Marapi  (2024). Novelnya  Rumah di Tengah Sawah  diterbitkan Balai Pustaka (2022). Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Esainya tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu (2019) dan puisinya tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival (2019). Beberapa puisinya dialihwahanakan menjadi lagu dengan iringan musik klasik oleh pianis bertaraf internasional, Ananda Sukarlan. Instagram: @muhammadsubhan2

SERIBU KUBUR SERIBU CAHAYA

Dari rahim lautan yang bergolak
lahirlah seekor naga raksasa
membentangkan sisiknya di pantai-pantai sunyi
di kampung-kampung kami
menghantam tiang-tiang peradaban
menelan doa yang terucap di garis waktu.
Tiba-tiba langit pecah seperti cermin tua
yang menusuk ufuk, lukisan merah di bumi bertahan.

Sekejap saja, Tanah Rencong menjadi altar luka
pohon-pohon menunduk seperti pelayat bisu
akar-akar tercerabut dan rumah-rumah luruh
menjadi serpih-serpih sejarah
yang tersembunyi di balik lumpur dan garam.

Beratus ribu nyawa berkubur, dan di antara

itu nisan-nisan tak bernama gigil dalam sepi.

Air adalah kitab yang tak berhuruf
mengajarkan arti kehilangan
meneroka tanda-tanda
di pasir yang tak lagi utuh.
Anak-anak bermain di waktu luang,
sementara ibu-ibu menganyam ingatan
dari sobekan kain yang hayut ke daratan.

Sepanjang waktu, orang-orang menanak air mata
meratibkan zikir dan doa-doa, lalu pelan-pelan menjahit luka.

Setelah diamuk remuk, Aceh menyulam

hujan menjadi tirai kesucian
mengajari bumi yang patah untuk melahirkan akar-akar baru.
Masjid-masjid berdiri seperti pelita di bukit
menantang malam yang pernah menyekap dan mencekam.
Langkah-langkah yang dulu rapuh kini mengukir
ketabahan di jalan-jalan sempit meski bertuba.

Aceh tak pernah mati—
ia menyalakan lentera di jantung bencana.
Kita adalah penjaganya
merangkai abu menjadi taman.
Di ladang yang pernah dicium air asin
kita menanam padi yang menceritakan cinta.

Dengarkanlah,

angin di Ulee Lheue menyanyikan ratib,

“Di bawah laut, kami kehilangan segalanya.
Di atas tanah, kami menemukan semuanya.”
Gelombang adalah tangan Tuhan
yang pernah menghantam
kini merayap pelan
di pagi hari yang tumbuh dari serpihan malam.

Aceh adalah serambi cahaya,
di mana luka menjelma mantra.
Ia tak menyerah pada lindu
atau anyir laut yang menghakimi.
Ia menatap kucing itu dengan mata batu
dan berkata: “Aku adalah air yang tak habis diserap tanah,
aku adalah nyawa yang menolak karam.”

Dan bila gelombang datang lagi,
takkan ia bertanya-tanya,
hanya sebuah kisah: tentang manusia
yang menjahit bekas sobekan langit
dengan benang bernama asa.

Dan kini, asa itu telah dirajut kembali
meski air mata masih tanak
dan jerit pilu yang bersarang di kepala
masih miang dan onak berpinak.

Hai, Aceh, sejauh mana kita pergi

ke palung tubuhmu jua kami mengetuk pintu.

Padang Panjang, 2024 Penulis: Muhammad Subhan

Leave a Response