Musik & Budaya

Ngopi Sekarang: Saeful Mujani (Keluar dari Tradisi Intelektual Ciputat)

11views

Ngopi Sekarang

Saeful Mujani (Keluar dari Tradisi Intelektual Ciputat)

Di musim Pilpres 2024, Saeful berada di pihak kubu Ganjar-Mahfud yang kalah. Dan sejak kekalahan itu, ia selalu kritis terhadap pemerintah sebagaimana juga para politisi dan aktivis yang berada di pihak yang kalah seperti Mahfud MD sendiri, Fery Amsari, Abraham Samad, Said Didu, dan lain-lain. Kalau kata nitizen mah, “mereks belum move on” (belum mau dan bisa terima kekalahan).

NAMA Saeful Mujani viral, tokoh yang mengajak publik menjatuhkan Presiden Prabowo lewat jalur jalanan. Alasannya, Prabowo susah dinasehati, cenderung otoriter, dan demokrasi terancam. Respon publik pun terpecah, pro dan kontra. Yang kontra mengatakan Saeful sudah makar, atau setidaknya sudah mengajak rakyat untuk berbuat makar. “Harus ada implikasi hukumnya itu,” ujar salah seorang loyalis Prabowo.

Sedang yang pro berpandangan, apa yang disampaikan oleh Saeful di acara halal bihalal para aktivis tersebut hanya ungkapan kritis seorang intelektual dan akademisi. “Akdemisi dan intelektual boleh bebas berbicara.” Kira-kira begitu kata mereka yang pro.

Mengapa Saeful Mujani membuat pernyataaan kontroversial? Buat saya sebagai yunior beliau di kampus, itu bukan hal yang aneh.

Pertama, ia berasal dari daerah Serang- Banten, daerah yang mempunyai sedikit catatan tentang kultur dan sejarah pemberontakan di tanah air.

Kedua, sejak awal ia tidak setuju apalagi mendukung Prabowo Subianto ikut dalam perhelatan Pilpres 2024. “Ada keterlibatan Prabowo dalam kasus HAM yang belum selesai (penculikan mahasiswa tahun 1998),” kata Saeful suatu hari.

Ketiga, di musim Pilpres 2024, Saeful berada di pihak kubu Ganjar-Mahfud yang kalah. Dan sejak kekalahan itu, ia selalu kritis terhadap pemerintah sebagaimana juga para politisi dan aktivis yang berada di pihak yang kalah seperti Mahfud MD sendiri, Fery AmsarI, Abraham Samad, Said Didu, dan lain-lain. Kalau kata nitizen mah, “mereks belum move on” (belum mau dan bisa terima kekalahan).

Keempat, Saeful seorang intelektual yang mempunyai basic keilmuwan kuat. Saat mahasiswa ia seorang kutu buku, mampu membaca buku-buku karya para filsuf besar kelas dunia dalam bahasa asing. Karya Karl Mark, Friedrich Nietzsche, Max Weber, Erich Fromm, Ivan Illich, Imanuel Kant, Paolo Freire, dan lain- lain, ludes ia baca. Sikap kritisnya sudah terbentuk sejak usia muda. Lulus dari UIN Jakarta Saeful terbang ke negeri Paman Sam, kuliah di Ohio State University. Kemudian menulis desertasi “Relgious Democrats: Democratic Culture and Muslim Polical Participation in Post Seharto Indonesia” yang merupakan desertasi terbaik di Universitas ternama tersebut. Pulang dari Amerika Serikat ia aktif di Kembaga Survei Indonesia sebelum akhirnya mendirikan SMRC (Saeful Mujani Research and Consulting), salah satu lembaga survei juga terbaik di tanah air. Kini ia bergelar profesor, guru besar UIN Jakarta.

Kelima, Saeful ahli ilmu politik tapi bukan seorang politisi yang aktif di partai politik. Bukan pula seorang aktivis pergerakan yang sering terlibat dalam aksi-aksi di lapangan. Oleh karena itu, sikap kritisnya banyak disalurkan melalui tulisan dan politik lisan dibandingkan melalui jaringan institusi politik yang ada. Ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo merupakan bagian dari sikap praktis yang disampaikan secara lisan.

Jadi ada dua variabel yang mendorong Saeful terang-terangan berani “melawan” Presiden Prabowoi. Satu, motif belum mau menerima Prabowo sebagai Presiden RI yang sah (residu politik pilpres 2024). Kedua, penguasan literasi konsep demokrasi yang kuat dan tajam.

Inilah yang membedakan Saeful dengan kebanyakan para elite politik dan sebagian kaum terpelajar di tanah air terutama soal cara memandang dan memaknai konsep dan implementasi demokrasi. Demokrasi dalam pandangan dan keyakinan Saeful, adalah kebebasan berpikir dan berpendapat yang dilindungi oleh lembaga undang-undang negara. Ajakan menjatuhkan Presiden lewat jalur jalanan adalah bagian dari demokrasi yang diatur undang-undang “Masa ngomong seperti itu di bilang makar!,” katanya dalam sebuah podcast.

Sementara sebagian para intelektual dan intelektual melihat demokrasi dan kebebasan bukan tujuan, melainkan momentum agar pikiran dan sikap terbaik bisa mendapat ruang lebih baik atau lebih leluasa. Semacan ruang lomba adu gagasan dan pendapat serta tindakan. Yang terbaik dan berkualitas itulah yang harus diakomodir. Ajakan menjatuhkan Prabowo mungkin bagian dari yang dibolehkan oleh demokrasi, tapi apakah itu baik untuk rakyat dan bangsa hari ini dan ke depan, sementara presiden sah Prabowo dipilih oleh lebih dari 60 persen rakyat?! Bagi kelompok yang kontra dengan sikap Saeful kompromi, etis, moderat, dan bisa bergaul dengan penguasa juga sebuah bagian aksi demokrasi.

Nah, Saeful Mujani berbeda. Ia keluar dari kebiasaan atau tradisi intelektual dan politik para alumni kampus, termasuk tradisi Intekektual yang berkembang di karangan alumni kampus almamaternya, UIN Ciputat. Ia bergerak sendiri mengambil jalan politik yang praktis, kritis dan berani melawan meskipun masyarakat menentang dan menguasai ancaman dengan palu hukum.

Sebagai yunior saya boleh memberi saran, Bro Saeful, teruslah kritis dan pintar. Namun, kepintaran terkadang sering mengingatkan orang merasa lebih pintar lalu sulit mengendalikan kepintaran. Bravo Bro Saeful Mujani.

Rasakan sensasi
Uten Sutendy

 

Editor: Rianto Muradi

Leave a Response