Musik & Budaya

Ngopi Pagi : Embargo Otak vs Embargo Iran

Ngopi Sekarang Embargo Otak

40views

Ngopi  Pagi

Embargo Otak vs Emargo Iran

SEORANG  teman tiba -tiba datang ke saung saya, mengajak diskusi dan langsung bertanya. “Mengapa Negara Iran yang sudah diembargo selama 40 tahun lebih masih tetap kuat, malah makin maju dan berkembang kuat kemampuan militer dan kinerja ekonominya?”

Saya mencoba merenung. Benar juga pernyataan dan pertanyaan teman itu. Iran ratusan kali digempur oleh pesawat tempur AS dan Israel, eh masih bisa melawan dan malah bisa membalas serangan lebih dahsyat. Dan sekarang justru Iran yang memegang kendali utama sirkulasi perekonomian di Selat Hormuz.

Saya masih terdiam, berfikir mencari jawaban sambil mengaduk-ngaduk secangkir kopi panas. “Kawan, akses ekonomi dan tehnologi negara Iran boleh diembargo oleh Amerika Serikat, namun otak para intelektual, cendekiawan, budayawan, akademisi dan para pemimpin Iran dari dulu tidak pernah bisa diembargo. Bebas berkreasi dan berkarya. Para pemikir dan ilmuwan tingkat dunia selalu lahir dari sana,” jawab saya setelah menyeruput kopi hangat.

Kawan itu tersenyum, merasa menemukan jawaban yang memuaskan. Tapi dari sorot matanya terlihat ada yang masih mengganjal. Ia pun kembali bertanya. “Negara kita, Indonesia, tidak pernah diembargo sehari pun dan oleh negara manapun. Bahkan kekayaan alam tetap melimpah sepanjang waktu. Tidak berkurang. Tapi mengapa kondisi ekonomi, politik, hukum, dan tehnologi di negara kita masih saja jalan di tempat, tertatih-tatih, tertinggal oleh banyak negara di Asia. Angka kemiskinan dan pengangguran serta praktek korupsi masih sangat tinggi. Kenapa bisa begitu?” Ia bertanya sambil menghisap kretek.

Saya menarik nafas dan mencoba berfikir sejenak. “Ya karena cara kerja otak sebagian para cendekiawan, akademisi, intelektual, para pejabat dan pemimpin negara kita di banyak tingkatan terus menerus diembargo sepanjang waktu,” jawab saya spontan.

Teman itu masih penasaran. “Diembargo oleh apa?!” “Oleh banyak hal. Diantaranya oleh oleh partai politik, kesombongan, jabatan dan status, kepentingan golongan, paham agama, nafsu birahi dan perut, luka sejarah, sistem birokrasi, dan juga oleh nafsu kekuasaan,” jawab saya reflek. Mendengar jawaban tersebut sang teman mengangguk-anggukan kepala pertanda setuju. Lalu kembali menyeruput secangkir kopi hangat.

 

Get the feeling
Uten Sutendy

Leave a Response