Oleh Ridhazia
Reportase dalam momen pertandingan sepakbola di Indonesia terasa lebay. Dari seharusnya melaporkan peristiwa yang objektif justru menarasikan opini yang subyektif.
Di era televisi, reporter sebatas melengkapi pandangan mata publik. Misalnya memberi informasi yang lengkap tentang latar belakang suatu pertandingan. Lebih lengkap lagi tentang prestasi klub, dan profesionalitas para pemain.
Selebihnya membuat narasi yang obyektif. Tidak terjebak pemihakan betapapun sang reporter mewakili kepentingan suatu klub atau negara. Terutama mengolah kata-kata harus dengan data-data.
Dibedakan dengan era radio ketika reporter harus terampil mengolah kata dengan tempo cepat. Ia adalah mata dan telinga publik.
Riset
Riset menjadi keharusan reporter. Ia harus menemukan apa yang perlu disampaikan ke publik melalui sumber berita, peristiwa terkini, atau isu-isu yang sedang trending.
Pastikan untuk mengagendakan kehadiran para pengamat sepakbola profesional untuk memberikan analisis melalui wawancara. Ketimbang memberikan opini sendiri. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikoloogi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





