Kolom Sosial Politik

Replika POHON BERINGIN

345views

 

Oleh Ridhazia

Airlangga Hartarto telah meneken surat pengunduran diri sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Sabtu, 10 Agustus 2024. Untuk memastikan keputusan politiknya itu, ia memberi keterangan video pada Ahad, 11 Agustus 2024.

Gumiwang

Setidaknya ada tiga kandidat pengganti Hartanto, yakni para Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Wakil Ketua Umum Agus Gumiwang, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Perindustrian, diprediksi terkuat menggantikan Hartanto yang kini menjadi Menteri Kordinator Perekonomian.

Airlangga terpilih sebagai orang nomor satu di Partai Golkar pada musyawarah nasional tahun 2019. Masa jabatan Airlangga seharusnya habis pada akhir 2024.

Replika Beringin

Konflik Partai golkar bukanlah fenomena baru. Di masa lalu, konflik internal semacam ini berakhir dengan terbentuknya partai-partai “replika” dari Partai Golkar, seperti Partai Demokrat, PKP Indonesia, Partai Hanura, Partai Gerindra, dan Partai Nasdem.

Konflik partai Golkar selalu menampakkan ujung yang jelas, apakah akan berakhir dengan kepengurusan terbentuknya partai baru atau lainnya. Skala konflik kali ini juga tampaknya cukup meluas melibatkan komponen elite pendiri Partai Golkar hingga level simpatisan

Hartanto vs Gumiwang

Diberitakan, relasi politik kedua tokoh politik partai bergambar pohon beringin itu antara Hartanto dan Gumiwang disebut-sebut tidak lagi hangat.

Dibalik alasan itu awal kisruh terjadi. Meski realitas perbedaan itu terjadi tidak berpengaruh terhadap konstalasi politik nasional dan daerah.

Partai Golkar mendukung calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Dukungan ini diperjelas setelah Partai Golkar bergabung koalisi yang berisi Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN) mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pilihannya.

Sepanjang Sejarah

Sepanjang sejarah era reformasi, suksesi kekuasaan politik Partai Golkar sebetulnya tidak selalu adem-ayem. Selalu terjadi tarik-menarik kepentingan dan perebutan legitimasi kepengurusan partai.

Sejarah mencatat konflik paling akut pernah terjadi antara kubu Munas Ancol pimpinan Agung Laksono dan kubu Munas Bali pimpinan Aburizal Bakrie.

Perbedaan dua versi munas Partai Golkar tersebut. Pokok persoalan yang digugat kubu Munas Ancol adalah ketidakmampuan Golkar mengusung calon presiden ataupun wakil presiden sendiri. Posisi Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden Joko Widodo saat itu justru diusung partai lain.

Saat itu tokoh-tokoh kubu Munas Ancol, yaitu Agung Laksono, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Priyo Budi Santoso, menamakan diri “Tim Penyelamat Partai Golkar”. *

  * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

 

 

Leave a Response