Bandung Raya

Pengakuan Palsu Karya Orang Lain: Fenomena ‘Rekayasa Kepintaran’ yang Mengganggu Ruang Digital

200views

Ditulis Oleh: H Iding Mashudi
Tabggal: 6 Desember 2025

BANDUNGPOS ID.
Fenomena pengklaiman karya orang lain yang kembali mencuat di media sosial memicu sorotan tajam dari berbagai kalangan. Sejumlah akun diduga dengan sengaja mengunggah karya kreator lain tanpa izin, lalu mengemasnya seolah-olah hasil gagasan pribadi. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk pelanggaran etika digital yang serius dan dapat menyesatkan publik.

Pemantauan redaksi menunjukkan pola serupa terjadi berulang-ulang: sebuah tulisan berkualitas tinggi, desain profesional, atau analisis mendalam beredar dengan nama pelaku, padahal karya tersebut telah diunggah jauh lebih awal oleh kreator asli. Temuan ini semakin menguatkan dugaan pelaku bahwa sengaja memanfaatkan karya pihak lain untuk membangun citra cerdas yang tidak sesuai kapasitas sebenarnya.

Pakar literasi digital menilai praktik tersebut sebagai bentuk “rekayasa kepintaran”—pencitraan intelektual palsu yang berbahaya. Mereka menegaskan bahwa tindakan mengaku-ngaku karya orang lain bukan hanya mencederai dunia kreatif, tetapi juga merupakan manipulasi publik. “Ini bukan sekadar plagiarisme, tetapi penipuan,” tegas salah satu pakar yang dihubungi redaksi.

Di sisi lain, kreator asli mengungkapkan kekecewaannya. Mereka menilai tindakan tersebut merampas hak moral dan jerih payah mereka yang dibangun melalui proses yang panjang. “Karya saya diambil, dipotong, lalu dipublikasikan ulang untuk kepentingan pencitraan pribadi. Ini sangat merugikan,” ujar seorang kreator yang enggan disebutkan namanya.

Komunitas kreatif mendesak adanya tindakan tegas dari platform media sosial. Mereka menilai maraknya pengakuan palsu menunjukkan lemahnya sistem perlindungan hak cipta di ruang digital. Komunitas menekankan bahwa pelaku yang mengklaim karya orang lain seharusnya menerima sanksi yang jelas agar kasus serupa tidak terus terulang.

Tanggapan masyarakat pun semakin keras. Banyak warganet yang aktif mengungkap indikasi plagiarisme dengan menelusuri sumber asli karya. Setiap ketidakwajaran langsung diteliti, dan dalam beberapa kasus, pelaku terbongkar hanya dalam hitungan jam. Publik menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk ketidakjujuran yang mencoreng integritas pribadi pelaku.

Kini, fenomena pengakuan palsu ini menjadi peringatan penting bagi pengguna media sosial. Di tengah keterbukaan informasi, upaya memoles citra dengan mengandalkan karya curian hampir pasti akan terungkap. Para ahli mengingatkan bahwa kejujuran dan keaslian tetap menjadi fondasi utama dalam dunia kreatif. Jika dibiarkan, budaya manipulasi semacam ini dapat merusak kualitas ruang publik digital yang sehat dan produktif.

Leave a Response